In puisi

Dalam rangka menciptakan rumah

Kupasang vas bunga dari sesalmu yang mekar
dan beraroma laut
pasang
surut
enggan menetap.

di atas meja
cerita sedihmu melesap ke dalam wadah asbak
menjadi abu yang mengotori karpet dan kemeja yang baru kusetrika.

barangkali dingin yang terjebak di dalam selimut
membuatmu lupa 

hidupku adalah tiket yang dijajakan dari dalam loket
sejak dini aku mengantre menunggu giliran
demi mengatrol harga dan menggadaikannya dengan rumah.

Sebab, sayang.

kepulangan adalah caraku berdamai
dengan belukar nilai yang selalu gagal kuterabas.

sementara, dari luar jendela
kamu sibuk memasarkan pahala kepada aku yang tak berselera mencari surga.


img source: etsy

Read More

Share Tweet Pin It +1

1 Comments

In cerpen

Berdansa bersama

Kamu bernyanyi dan menggoyangkan pundak dan kaki. Tentu tanpa suara karena kamu buta nada dan tak ingin orang lain kehilangan selera. Kamu hanya ingin menikmati hari meski tak senikmat kuah bening bakso yang disesap saat masih hangat dan dipuji-puji olehnya. Nikmat sekali, ini baru luar biasa. Pujian kepada semangkuk bakso yang membuat pipimu bersemu. Sebab, kios bakso itu adalah pilihanmu.

Aku akan selalu mengingat hari ini. Begitu katanya. Kira-kira beberapa bulan sebelum dia pergi dan menikmati semangkuk bakso lain, di tempat yang lain, bersama yang lain. Kamu bernyanyi sementara di belakangmu seorang pemuda tak tahu cara menempatkan diri. Ia mencoba menggoyangkan kaki tapi terasa tak pas di hati. Ia ingin sekali pergi tapi tak memegang kunci. Maka, ia mencoba dan terus mencoba sementara kamu bersenandung mencoba tak peduli.

Tentu saja kamu peduli. Diam-diam dari sudut matamu kamu mengecek sesekali. Berharap ia maju selangkah lagi dan menikmati musik bersamamu. Diam-diam kamu bergerak mundur agar bisa menjajari tapi ia pikir kamu terlalu ngoyo mengajari. Satu langkah di depan pria yang mencoba menggerakan bahunya mengikuti irama, kamu berdiri di sana melayangkan pikiran pada pemuda lain dan semangkuk bakso yang katanya luar biasa sampai sulit terlupa.

yang tentu saja sudah melupa sejak lama.

Kamu bernyanyi tanpa suara sebab ada yang mulai mendesak-desak mencari pintu keluar dari celah matamu. Mengalir seperti tanganmu yang bergerak ke kanan dan kiri. Mengalir seperti kakimu yang meloncat sesekali. Mengalir seperti mulutmu yang lincah menyerukan kata mengikuti penyanyi di panggung jauh di depan sana.

Malam itu, ia terus bernyanyi. Pria diam berdiri. Keduanya ingin sekali berdansa bersama tapi tak ada satupun yang punya nyali mengatakannya.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In puisi

Rengkuh



Gaduh kepalamu 
memadamkan suara dalam hati

tidak apa-apa
Tuhan tidak meninggalkanmu

nasib tak selalu buruk
hidup tak terlalu busuk

tidak apa-apa
istirahatkan norma yang membebani 
hiduplah dengan ritmemu sendiri
menari bernyanyi berlari berhenti
bersembunyi sesekali

sudahi gaduh di kepalamu yang
memadamkan lama suara dalam hati

tidak apa-apa
lepaskan kecemasan yang menjadi temali
mengikat jiwamu yang tak bernyali 

Kesalahan adalah kesempatan
untuk mencoba dengan cara berbeda

sudahi
sunyi hatimu
kamu tak akan sendiri

sejauh kakimu berlari
sejauh tanganku merengkuh



Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In puisi

Pernikahan adalah Kuburan

pernikahan adalah kuburan
kotak segala takut disembunyikan
tempat segala mimpi disemayamkan
istirahatlah, segala ingin
yang selamanya jadi angan.

air mata menggeburkan tanah
membuat bunga tumbuh indah
dengan aroma yang bikin bergidik

sayang, bisakah kita sebentar saja
menjadi asing kembali?
sebelum kita berpura-pura terlalu kenal
lalu saling berteriak melabeli
padahal kita bukan botol lada dan garam


img src: pinterest

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Life

Tentang perubahan dan penerimaan



Saya pikir berubah itu mudah, berbeda itu gampang diterima. Bukankah kita ciptaan tuhan dengan kemampuan beradaptasi terhebat? Selain kecoa hha. Tapi, kadang tuhan memberi pemahaman baru melalui situasi yang perlu saya alami dulu. Seolah-olah saya diberi tahu "hmm yakin? Coba buktiin!"

Iyah, ternyata memang gak semudah itu.

Bulan Maret, April, Mei, hingga saat ini banyak perubahan tak terduga terjadi. Begitu cepat sampai saya tidak menyadari perubahan ini bisa bikin saya stres juga. Sampai pada suatu hari saya benar-benar merasa lelah. Lelah melakukan apa pun, apalagi bertemu orang baru. Beberapa orang mendadak bagai dementor yang menghisap habis energi saya. Setelah berpisah, saya merasa kelegaan yang luar biasa.

Saya tenang dan senang kembali.

Saya tahu ada yang perlu saya terima sebelum mulai membenahi. Atau memang sudah terlalu lama saya sibuk dengan orang lain dan kini saya butuh waktu dengan diri saya sendiri. Secara lebih baik dan lebih lama.

Menerima bahwa saya sempat stres dan tak apa. Saya sedang tumbuh, sekali-kali layu pun tak masalah. Mengambil sedikit atau banyak jeda untuk membuat hati lebih longgar. Saya harus menerima diri saya yang sedang berubah. Bukan, bukan berubah melainkan kembali menjadi diri saya yang baru saya kenali kini.


img source: pinterest.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments