In puisi

Pernikahan adalah Kuburan


pernikahan adalah kuburan
kotak segala takut disembunyikan
tempat segala mimpi disemayamkan
istirahatlah, segala ingin
yang selamanya jadi angan.

air mata menggeburkan tanah
membuat bunga tumbuh indah
dengan aroma yang bikin bergidik



sayang, bisakah kita sebentar saja
menjadi asing kembali?
sebelum kita berpura-pura terlalu kenal
lalu saling berteriak melabeli
padahal kita bukan botol lada dan garam


img src: pinterest

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Life

Tentang perubahan dan penerimaan



Saya pikir berubah itu mudah, berbeda itu gampang diterima. Bukankah kita ciptaan tuhan dengan kemampuan beradaptasi terhebat? Selain kecoa hha. Tapi, kadang tuhan memberi pemahaman baru melalui situasi yang perlu saya alami dulu. Seolah-olah saya diberi tahu "hmm yakin? Coba buktiin!"

Iyah, ternyata memang gak semudah itu.

Bulan Maret, April, Mei, hingga saat ini banyak perubahan tak terduga terjadi. Begitu cepat sampai saya tidak menyadari perubahan ini bisa bikin saya stres juga. Sampai pada suatu hari saya benar-benar merasa lelah. Lelah melakukan apa pun, apalagi bertemu orang baru. Beberapa orang mendadak bagai dementor yang menghisap habis energi saya. Setelah berpisah, saya merasa kelegaan yang luar biasa.

Saya tenang dan senang kembali.

Saya tahu ada yang perlu saya terima sebelum mulai membenahi. Atau memang sudah terlalu lama saya sibuk dengan orang lain dan kini saya butuh waktu dengan diri saya sendiri. Secara lebih baik dan lebih lama.

Menerima bahwa saya sempat stres dan tak apa. Saya sedang tumbuh, sekali-kali layu pun tak masalah. Mengambil sedikit atau banyak jeda untuk membuat hati lebih longgar. Saya harus menerima diri saya yang sedang berubah. Bukan, bukan berubah melainkan kembali menjadi diri saya yang baru saya kenali kini.


img source: pinterest.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Review

Refleksi dari Penafsiran Asal-Asalan Lagu-Lagu di Album Baru Fourtwnty

Sudah beberapa hari ini saya merasa "terganggu" dengan lagu-lagu di album baru Fourtwnty. Liriknya yang begitu deep in their own way bikin gatal buat dipahami.

Ego & Fungsi Otak sebagai judul album terasa sangat tepat membungkus tema sebagian besar lagu pada album baru ini. Beberapa lagu merupakan upaya refleksi yang diutarakan seseorang yang sudah melewati banyak hal dalam hidupnya, seperti Nyanyian Surau dan Kita Pasti Tua. Ada pula lagu cinta, baik yang sedang berbunga-bunga atau yang patah hati sampai ...



Seperti lagu-lagu indie pada umumnya (atau non indie sekalipun), lagu-lagu Fourtwnty begitu multitafsir dan bisa dimaknai dengan sangat subjektif. Sesuai kondisi, pemahaman, pengalaman, hingga asumsi pendengar.

Begitupula dengan tafsiran saya: begitu subjektif. Tapi biarlah saya melepaskan "gangguan" ini dengan mencoba memaknai beberapa lirik lagu Fourtwnty dengan versi saya sendiri.

Nyanyian Surau

Kamu mencoba mengenang masa mudamu. Masa-masa ketika kamu tak tentu arah. Penuh upaya mencari kegembiraan dengan emosi yang meluap-luap yang kini telah redup. Pelan-pelan kamu mengingat bagaimana tindakanmu dulu membuatmu sakit sendiri. Mungkin dengan menjajal narkotika atau kenakalan lainnya sampai kamu tak bisa berpikir menggunakan akal sehat
Hingga sulitku berdamai dengan Nalar tak terkontaminasi
Semua kamu lakukan karena dulu kamu begitu butuh pembuktian diri, haus pujian sampai lupa diri.

Kini, semuanya telah terasa kebas. Rasa dan keinginan menggebu-gebu di masa muda dulu telah tiada. Telah mati suri. 

Saat candu belum mati, kamu mengalami berbagai kehilangan. Mungkin kehilangan orang atau akal sehatmu sendiri. Kamu pernah tenggelam dalam kegilaan, berada di tempat yang menjadi konsekuensi tindakanmu. Bisa jadi penjara atau lebih buruk dari itu.
Mati suri canduku
Mati suri canduku
Kamu lebih riang (dan tenang) sekarang karena hasrat yang mengikat itu sudah redam. Sebabnya, sebuah petunjuk dari Tuhan, mungkin sebuah kitab suci dan kini kamu telah damai di sebuah surau tua.

Realita

Lagu ini sempat sedikit mengingatkan saya pada lagu ERK berjudul Kenakalan di Era Informatika. Bedanya, jika lagu ERK secara gamblang menunjukkan keresahannya soal maraknya konten/perilaku pornografi yang beredar pada masa itu, lagu ini seperti seorang teman yang berkata, “Ngaku aja deh lo, pernah gini kan.”

Alih-alih soal pornografi, lagu Realita lebih luas dari itu, walau mungkin payungnya tidak jauh berbeda, soal kenakalan masa muda.
Nafsu dulu baru logikaTinta biru tinggal cerita- Realita 
Tutup mata tutup telinga. Perhitungan pun tak ada- Realita

Tapi lagu ini gak mencoba menghakimi atau menyesali siapa/apa pun. Sesuai judulnya, lagu ini hanya ingin memaparkan sebuah realita. Maka,

"Tolong tunjuk tangan siapa yang pernah mencoba," begitu katanya.

Kusut

Inilah yang kamu rasakan saat patah hati: Kusut. Saya menginterpretasikan lagu ini sebagai lagu putus cinta. Tentang kamu yang belum bisa menerima usai ditinggalkan. Hingga merasa “sakit” dan “lumpuh”. Kamu tak menemukan dirimu sendiri tanpanya. Kamu merasa hanya sedang berpura-pura terbiasa lupa.
Terlihat ku palsu
Tanpa rasamu, menjamahku
Walau pada akhirnya kamu sadari, bahwa dia bukan yang terbaik buatmu.
Mungkin bukanlah wujudmu
ranjang ternyaman bagiku

Tetap saja kamu kepayahan melepaskannya. Sampai terasa begitu kusut. Kamu merasa lumpuh tanpanya. Tanpa seseorang yang biasa ‘menuntunmu’.

note: yang favorit di sini, ada semacam efek bunyi rintik hujan (atau percikan api?) yang menambah kenikmatan lagu.

Trilogi

Mari kita mulai dari bait terakhir:
Maafkan ini karenaku. Biang masalah masa lalu. Bertemu faham-faham itu. Simpang siur kini namaku.
Lagu ini seperti sebuah pengakuan seorang pelaku teror (teroris?) akibat banyak faham sesat yang dipelajarinya dulu. Kini, ia justru tak tahu mana yang benar dan salah. Ia telah simpang siur. Tapi, ia tahu ia telah menyebabkan kekacauan.
sesal dan kumalu
tangisanku tak membantuku
akhirnya nelangsa
yang menjamahku
menjamah aku
Sebuah lagu penyesalan yang tak bertemu solusi hingga akhir kisahnya. Selain sesal, ada kesedihan dan amarah mendalam karena telah berhasil dijadikan “alat” peneror oleh orang yang kini ia coba lawan.
meradang egoku
meradang tangisku
menghadang tawamu
Makna lagu yang dalam tapi membuat saya bertanya-tanya, jika memang maknanya seperti yang saya tafsirkan di atas, adakah mereka sang pelaku teror betulan bisa merasakan hal tersebut?

Segelas berdua

Akhirnya ada lagu romantis walau “sok tak bisa romantis”. Lagu ini tak terlalu terasa analoginya (paling tidak bagi saya). Liriknya pun jauh lebih mudah dicerna dari lirik lagu lain di album ini. Tentang pemuda yang menunjukan cintanya dengan cara yang “menurutnya tidak romantis dan tanpa rayuan”.


Bukan tidak romantis deng, tapi romantis dengan cara yang berbeda. Nyatanya tetap berusaha menyenangkan kekasih dengan membawakan sebuah bunga. Walau tampak kaku dan tak biasa.

Kembang lili tak tahu malu
Berada digenggam tangan kananku
Tapi tetap berakhir dengan romantis:
Segelas berdua
berwarna merah isi dan langitnya
di bawah aroma hamparan hijau
Jadi, begitulah cara saya melepas "gangguan" ini. Selesai sudah, fyuh! Punya penafsiran atau tanggapan yang berbeda?


image credit: YouTube/Indie Play Id, Fourtwnty Music 

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Know Yourself

Tukang Bully

Kamu datang ke kamarku sambil mengomel. Sebabnya, sebuah postingan di media sosial. Katamu, banyak orang jahat yang bisa kejam mengomentari orang lain. "Kenapa susah sekali menahan mulut."

Kubilang, biasanya mereka yang banyak komentar tentang fisik, begitu peduli sama fisik mereka sendiri.  Barangkali itu proyeksi. Kamu nggak terima. "Kalau dia punya hati, harusnya dia gak setega itu ngebully orang lain." Menurutmu, itu gak bisa dijadikan alasan. Ketidakpuasan terhadap diri kenapa dilimpahkan pada orang lain.

Tenang-tenang, kataku sambil membetulkan jilbab.

Kamu duduk di pinggir tempat tidur, tetap bicara dengan kesal. "Mereka yang jerawatan udah sadar kalau mereka jerawatan, what is the point of saying 'muka lo jerawatan banget', nyebelin kan."

Aku mengangguk. Jarum pentulku hilang lagi. Aku sering heran ke mana perginya berkotak-kotak jarum pentul, si kecil itu bisa lenyap begitu saja. Kulihat ada satu di bawah kakimu, jadi aku menyuruh kamu mengangkat kaki dan kamu pun memilih tiduran sekalian di tempat tidur.

Di depan tempat tidur ada kaca kecil yang menggantung. Kamu melihatnya dan mulai buka mulut lagi. "Eh eh," katamu, "Gw kok gendut banget yah." Kataku kamu berlebihan. Menurutku kamu memang tidak gendut tapi tidak kurus, itu ideal namanya.

Tapi kamu bilang ucapanku hanya pemanis saja. Aku sih tidak memaksa. Lebih baik aku pikirkan matang-matang lip cream apa yang akan kugunakan. Aku tak terlalu suka warna cokelat tapi entah kenapa aku merasa wajahku lebih baik dengan warna tersebut.

"Gw mau diet ajalah, tembem banget sih ini mah. Lo liat gak sih lengan gw? Gede banget loh." Aku lihat sebentar sebelum akhirnya memoles lip cream, kusempatkan bilang "Biasa aja ah"

Kamu melihat lenganmu dengan sebal, cirinya mulutmu mengerut. "Kemarin gw pake baju yang modelnya sama kaya baju lo itu. Di gw tuh jadi jelek gitu loh. Kayak ibu-ibu. Gara-gara lengan gw ini gede banget."

Saat itu, aku sih gak keberatan mendengar lebih banyak keluhan soal lengan, tapi kayaknya harus dihentikan kalau gak aku bisa terlambat pergi. Jadi aku selesaikan dulu soal lip cream di bibir ini sebelum akhirnya berpaling padamu.

"Dibandingkan semua netizen kejam yang bisa ngehina orang lain yang gak dikenal, lebih kejam mereka yang udah kenal baik sama diri sendiri tapi masih sering mencela diri mereka sendiri."

Kenapa orang bisa begitu simpati sama orang lain tapi jahat sama diri sendiri?

Kamu bilang kamu gak ngerti aku ngomong apa, tapi aku yakin sebenarnya kamu mengerti soalnya setelah itu kamu diam saja.


Image: pinterest

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Life

Farewell



Malam itu kami berkumpul dalam satu ruang, hampir lengkap. Kali pertama tanpa mengurusi soal pekerjaan. Satu persatu bergantian memberi pujian. Satu hal yang telah lama saya sadari kembali meruap: betapa saya beruntung sekali dikelilingi orang-orang ini.

Ada yang akhirnya terisak menyampaikan keresahannya. Keresahan kami semua. Hal yang saya khawatirkan, tak sebanding dengan beban yang bergelayut di pundaknya. Saya hanya takut kehilangan lalu tergantikan. Ketakutan kanak-kanak yang tak pantas saya suarakan. Maka saya diam. Menepuk-nepuk punggung teman yang takut gagal bertahan. Memeluknya.

Jika perpisahan beraroma, pasti wanginya tak sedap. Andai bisa, kami memilih menutup hidung, menghirup udara lewat mulut, agar tak tersedak bau perpisahan. Tapi, perpisahan hanyalah soal kapan dan bagaimana, tak terelakan.


it takes me back to where we started it, when you let it go and started again.
is it really comes to the end? (Kodaline)

Apa yang menyedihkan dari perpisahan?

Kita kehilangan sebagian dari diri kita yang merupakan bagian dari sesuatu. Sebagian dari diri kita yang diam-diam kita sukai. Sebagian dari diri kita yang merasa telah menemukan tempat ternyamannya. Kita kehilangan sebagian dari diri kita yang kita kenali sebagai A dan bukan B.

Perpisahan bisa menyedihkan, tapi bisa jadi melegakan. Bahkan bisa saja keduanya sekaligus. Tapi menangisinya terus-menerus adalah sia-sia, sebab barangkali perpisahan adalah bentuk doa yang Tuhan kabulkan.


Maka, syukuri saja.

Maret 2018.


image: SWFloridabirder


Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments