In Review

[Review] Dawuk: Kisah Kelabu dari Rumbuk Randu. Hati-Hati Barangkali Semuanya Hanya Tipu-Tipu!



Saya membaca novel Dawuk: Kisah Kelabu dari Rumbuk Randu (selanjutnya akan disebut Dawuk) selama perjalanan ke kantor (Stasiun Karet) dari Stasiun Pondok Cina, kurang lebih 1-1.30 jam. Artinya bisa dua hal; novel ini sangat seru dan dinamis sampai bisa dibaca cepat atau memang karena novel ini sangat tipis -tidak sampai 200 halaman.

Soal cover, setelah membaca baru memerhatikan covernya yang berupa kalajengking dan ular *buru-buru balik buku*. Jelang akhir halaman, saya mulai merasa cover ini sangat pas walau sedikit ngeri. 

Novel ini merupakan karya Mahfud Ikhwan pertama yang saya baca. Fiksi terbitan Marjin Kiri ini saya lirik lantaran meraih penghargaan pemenang pertama dalam Sayembara Menulis Novel DKJ 2017.  Walau begitu, novel terdahulunya yang berjudul Kambing dan Hujan pun pernah menjadi pemenang pertama Sayembara Menulis Novel DKJ 2014 (baiklah masuk daftar to-be read).

Dawuk merupakan premis di masyarakat Pantai Utara Jawa yang menggambarkan warna bulu kambing yang kelabu cenderung gelap. Memberi kesan kusam dan kumal. Maka Dawuk dianggap pas sekali sebagai plesetan nama Dawud menjadi Mat Dawuk yang kumal, buruk rupa, bernasib sial, ditakuti hingga dibenci oleh warga Rumbuk Randu. Bukan hanya untuk Dawud alias Mat Dawuk, kesan dawuk pun menjalar pada seluruh isi buku ini: kelabu -kecuali pada beberapa adegan yang diiringi musik india-.

Berkali-kali dituturkan keburukan wajah Mat Dawuk yang membuat ngeri dan dijadikan ancaman para orang tua demi membuat anaknya nurut. Tapi, beberapa dialog Mat Dawuk dan sikapnya yang acuh tak acuh, tenang, dan ternyata bijak, membuat wajahnya terasa baik saja dalam benak saya sebagai pembaca. Di awal kamu seolah dipaksa ikut ngeri seperti anak-anak yang sampai sawan kala melihatnya, tapi pada akhirnya kamu bisa saja jatuh cinta pada Mat Dawuk. 

Kisah Mat Dawuk memberikan harapan romansa yang cukup getir. Mungkin karena kisah romansa Mat Dawuk bersama Inayatun sudah disebut-sebut di awal tak akan berakhir bahagia. Walaupun bahagia, hanya sekejap saja. Jadilah, kebahagiaan mereka kilat, menggebu-gebu, lalu lenyap. Seolah kehadiran Inayatun -yang memberi keteduhan di hati Mat Dawuk- hanya untuk menambah-nambah kesialan hidupnya.

Pada bagian tertentu,  membaca novel Dawuk mengingatkan saya pada novel Harimau! Harimau! karya Muchtar Lubis atau Lelaki Harimau milik Eka Kurniawan. Barangkali karena latar yang digunakan begitu khas dan dekat dengan masyarakat Indonesia.  Warga Rumbuk Randu mungkin bisa mengingatkanmu pada satu dua tetangga yang mengesalkan di kampung halaman, dengan ciri; hobi nyinyir atau diaku-aku kyai tapi perilaku tak punya hati. Sementara Mat Dawuk dan Inayatun, duo bengal yang dibenci warga, seperti pencilan yang tentu menarik perhatian. 

Seluruh kisah disampaikan oleh Warto Kemplung -laki-laki yang dicap warga sebagai pembual- di warung kopi selama beberapa hari. Tokoh ini pun tipikal pria yang bisa kamu temui di kampungmu. Laki-laki yang hobi cerita ke sana ke mari demi dapat rokok dan kopi (paling tidak begitulah sangkaan warga).

Membaca buku ini bagai sedang serius berjalan sambil menunduk karena ada yang menarik perhatian di aspal, lalu di halaman terakhir, kepalamu terbentur tembok yang sebetulnya sudah lama berdiri di sana, tapi tak kamu lihat karena terlalu asyik menunduk.

Begitulah. Selamat membaca!




Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Life puisi

Yang Selalu Percaya Tanpa Perlu Banyak Tanya



Ada kalanya benih yang kita tanam tak tumbuh sesuai harapan. Layu dan mati perlahan. Bisa jadi kita yang tak rutin menyiram atau keliru memberi pupuk. Bisa juga cuaca atau tanah yang tak tepat.

Semua kemungkinan punya persenan.

Seperti hubungan yang kita bangun dan pelihara, tak selalu menciptakan manusia-manusia yang baik untuk jiwa. Barangkali yang layu memang tak layak untuk dirindu. Barangkali memang kita boleh menanam apa saja, tapi hanya menuai yang menurut Tuhan sesuai.

Ada yang sibuk menilai tanpa sempat mendengar
Ada yang segera menghakimi tanpa upaya memahami
Ada yang berhenti peduli sebelum akhirnya pergi

Mereka yang ragu tak perlu dirayu.

Karena kita hanya menuai apa yang menurut Tuhan sesuai

Ada yang selalu percaya tanpa banyak tanya
Ada yang selalu memberi peluk saat segalanya terasa pelik
Ada yang selalu ada tanpa diberi banyak tanda

Ada kalanya kita perlu merelakan yang akan meninggalkan demi menyimpan energi untuk yang mau mengerti.

Ada kalanya kita tak bisa miliki semua dan tetap merasa bersahaja.


sumber gambar: pinterest



Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Review

[Review] Upaya Menghadapi Kehilangan dalam Laut Bercerita oleh Leila Chudori



Ketegangan Leila berikan sejak lembar pertama (tak jauh berbeda dengan ketegangan Hananto di buku Pulang yang diciduk pada awal cerita). Di Laut Bercerita, ketegangan di awal adalah sebuah jawaban yang seolah mengatakan pada pembaca: jadi beginilah akhirnya, yakin siap mendengarkan kisahnya?

"Yang paling sulit adalah menghadapi ketidakpastian...kami tak tahu pasti apakah kami akan dilepas atau dibunuh; dan kami tidak tahu secara pasti apa yang sebetulnya mereka inginkan selain membuat jiwa kami hancur..." (hal 259)

Pengenalan tiap tokoh diikuti dengan irisan kisah  hidup yang membuat karakter mereka tidak serta merta ada. Seperti Daniel yang memiliki karakter anak manja sebagai bentuk kompensasi 'beban beratnya' menjadi sosok kakak yang bertanggung jawab pada banyak hal di rumah. Dari deskripsi ringan seperti ini membuat kita dapat mempelajari satu dua hal; tentang upaya memahami karakter orang di sekitar kita misalnya.

Hampir semua tokoh memiliki karakter yang kuat, sehingga, meski banyak, tak terasa sia-sia. Selain Laut dan Asmara -adik Laut- sebagai tokoh sentral, ada pula Bram, Kinan, Gala, Anjani, Alex, Daniel, Sunu, Naratama, Gusti, dan lainnya. Kamu mungkin akan jatuh cinta pada salah satu tokoh seperti pada Asmara, Alex, atau bahkan (mungkin) Naratama alias Tama.
"Kita harus belajar kecewa bahwa orang yang kita percaya ternyata memegang pisau dan menusuk punggung kita. Kita tak bisa selalu berharap semua orang akan selalu loyal pada perjuangan dan persahabatan." (hal 30)

Memang telah ada banyak karya sastra yang menuangkan kembali tragedi 1998, mulai dari Sekuntum Nozomi 3 karya Marga T, Notasi karya Morra Quatro, Trilogi Soekram milik Sapardi, hingga Pulang milik Leila. Laut Bercerita, karya terbaru Leila ini pun tak jauh berbeda.

Menariknya, tiap buku yang telah disebutkan di atas, memiliki angle dan gayanya masing-masing. Dalam Pulang, dikisahkan bagaimana tokoh utama kehilangan root-nya karena tak bisa kembali ke tanah air. Sementara dalam Laut Bercerita, kisah terbelah menjadi dua bagian besar:  penyiksaan pada para tokoh aktivis, termasuk Laut dan bagaimana keluarga Laut -dan keluarga aktivis lain-menghadapi kehilangan.

Jika digambarkan dalam satu kata, bagian pertama rasanya: mengerikan dan bagian kedua rasanya: memilukan. 

Saya merasa fase kehilangan yang dihadapi oleh keluarga inilah intinya;
Orangtua Laut yang tak rela meninggalkan rumah terlalu lama karena takut anaknya pulang saat rumah sedang kosong, Ayah Laut yang tetap menyajikan piring dengan menyertakan anak sulungnya, berharap ada yang muncul di depan pintu dan mengambil jatah piringnya. Dan segala bentuk penyangkalan demi tak merasakan kesedihan yang mendalam.

Penyangkalan-penyangkalan itulah kesedihan yang mendalam bagi Asmara.

Asmara adalah sosok yang patut kena lampu sorot. Karakternya yang 'kokoh' dan rasional bagai penyeimbang segala harapan dan angan kosong yang dipelihara orang tua, Anjani kekasih Laut, ataupun Alex, teman aktivis Laut yang juga mengalami penyiksaan parah.

Setelah segala kengerian dari berbagai bentuk penyiksaan yang digambarkan, sudut pandang akan beralih pada Asmara. Nah, di sinilah saatnya kamu menyiapkan tisu. Saran saya sih, jangan membaca buku ini di tempat umum kalau malu menangis dilihat orang :p


Ohya, buku ini juga bisa kembali mengingatkan kita, demokrasi dan segala 'kenyamanan' Indonesia yang saat ini kita nikmati adalah hasil darah dan air mata para mahasiswa/anak muda yang memimpikan Indonesia menjadi lebih baik.



Sebagai penutup, cobalah membaca buku ini sambil mendengarkan lagu Sting, "They Dance Alone"

Why are these women here dancing on their own?
Why is there this sadness in their eyes?
Why are the soldier here
Their faces fixed like stone?
I can't see what it is they despite
They're dancing with the missing
They're dancing with the dead
They dance with the invisible ones
Their anguish is unsaid.


sumber gambar: sociolla.com, salihara, dan tempo.co

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Life Review

Bicara Soal Kerinduan dari Tafsiran Asal-Asalan Album Ruang Tunggu Payung Teduh






 

Jika kamu pernah mengalami jenis kerinduan yang tak bisa dituntaskan (tak seperti novelnya Eka Kur) kamu pasti setuju bahwa lagu rindu yang indah-indah itu tak bisa mewakili rasanya. Sepaket lagu dari album baru sekaligus album terakhir Payung Teduh dengan Is, barangkali bisa. Kecuali Akad, deretan lagu di album Ruang Tunggu itu penuh rasa sesak rindu yang tak bisa diapa-apakan.

Mulai dari Muram
Lagu ini sudah diawali dengan kata kerinduan yang dianalogikan dengan aliran sungai yang diteguk sekaligus ditangisi. Memang muram kan. Lalu Is membuat kita harus mengenang soal perpisahan yang membuat mimpi-mimpi bersamanya jadi sirna, dan sang pujaan jauh dari pandangan. Belum lagi soal cerita dan rencana yang sepertinya (harusnya) akan indah bila dapat terwujud. Lagu diakhiri dengan hiburan pada sang tuan untuk menepi, istirahat sejenak. Sedih yah? gitu deh.

Saya jadi teringat seorang teman yang sudah sibuk urus ini itu persiapan pernikahan lalu dibatalkan sang calon pada malam sehari sebelum lamaran.

Tapi toh Mas Is tetap menyemangati: Hiduplah asa, purnalah rasa.

Selalu Muda
Nadanya lebih riang walau liriknya sudah mengandung kata ‘muram’. Banyak lirik yang diakhiri konsonan untuk memberi kesan kesedihan. Di awal, Mas Is mengingatkanmu pada sosok yang dirindukan dan rindu yang dipelihara. Awalnya saya pikir, oh ini lagu cukup aman, nggak sedih-sedih amat harusnya. Sampai pada lirik si tokoh tak bisa menemukan sang pujaannya selain dalam mimpi. Dan menyebalkan, seperti pada film-film (dan mungkin dunia nyata) kenangan menghantuinya kemana-mana. Kasihan, rindunya tak berkesudahan. Bahkan selalu segar seperti saat pertama, rindunya selalu muda.

Lalu, Mari Bercerita
Saya memaknai lagu ini sebagai cinta yang tak bisa memiliki. Gimana yah, mereka berdua saling suka berbincang bersama. Tapi, mentok kalau membahas tentang kebersamaan. Jadi yah, saya sok tahu. Mereka enggan berpisah, mau berdua lama-lama, sudah menanti lama, tapi toh harus berpisah pada saatnya tiba. Duh!

Lanjut ke Sisa Kebahagiaan
Lagu ini lucu. Tapi sedikit banyak mirip dengan Mari Bercerita. Kebersamaan yang ada deadline-nya. Ada yang girang bisa bertemu sampai gelisah. Gelisah kegirangan itu tak berlangsung lama. Seperti sedang pergi sama selingkuhan haha. Ups, bercanda.

Kita Hanya Sebentar
Lagu ini salah satu favorit saya. Is mengingatkan kita soal kesementaraan yang wajar, yang harusnya diterima dengan biasa. Jika bosan memaknainya dengan cinta-cintaan. Bisa juga memaknainya dengan kehidupan. Mengenai kita yang hanya hidup sebentar di dunia ini. Ada yang datang padamu, ada yang pergi dan hanya meninggalkan kenangan perihal kejadian dan aroma.

Mas Is membaca puisi di sela-sela lagu. Indah. Jadi kalau saya dengar lagunya menggunakan headset, pada telinga kanan terdengar mas Is bernyanyi, pada telinga kiri mas Is berpuisi menggema-gema (istilahnya apa yah?) Pokoknya indah!

Terakhir, di Atas Meja
Beda dengan Selalu Muda, di sini ada yang khawatir kerinduan hilang dan sepasang mantan kekasih saling melupakan. Kebiasan yang berubah, keakraban yang menjadi asing. Sedih yah? Ember! 

Tapi setelah dibuat takut dan sedih, Mas Is justru mencoba mengingatkan bahwa ketenangan juga akan segera datang. Jadi, nggak perlu takut dek. Gitulah, abis dibikin cemas terus dibuat tenang. Bertanggung jawab, sip!

Begitulah, saya merasa lagu-lagu di album Ruang Tunggu inilah bentuk rindu yang menyebalkan dan membuat perasanya terpaksa menikmatinya. Mungkinkah Mas Is ciptakan karena tahu kelak (atau telah) merindukan Payung Teduh?


Ditulis dalam perjalanan ke kantor, di kereta menuju Karet.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Review

[Review] 1Q84 by Haruki Murakami: Kerinduan, Persetubuhan, dan Orang Kecil




Novel 1Q84 dapat dibilang sebagai novel Murakami pertama yang saya baca dalam bahasa Indonesia. Sebelumnya saya telah membaca Norwegian Wood, Kafka on The Shore, The Wind-Up Bird Chronicle, After Dark, What I Talk About When I Talk About Running, dan The Strange Library. Iyah, saya memang penggemar Murakami. 

Walau begitu, saya tak berniat membandingkan 1Q84 dengan novel-novelnya terdahulu atau setelahnya. Meskipun, tetap ada beberapa kesamaan yang menjadi khas Murakami si ahlinya surealisme ini. Soal kesendirian tokoh-tokohnya, adegan erotisnya, hingga karakter tokoh yang serupa tapi tak sama. 

Sebelum itu, saya mau bahas soal translasinya. Jika kamu agak malas membaca novel terjemahan karena takut 'rasanya' berubah, novel Murakami versi Indonesia ini sama sekali tak mengecewakan. Mungkin karena penerjemahnya justru seorang Jepang yang tinggal di Semarang dan mahir berbahasa Indonesia. Jadi, taste 'Jepangnya' masih terasa dan nyaman dibaca. Walaupun versi bahasa Inggrisnya pun diterjemahkan langsung oleh Murakami, namun Ia kerap 'mengadaptasi' gaya Amerika. Jadi, saya sih suka sekali dengan versi Bahasa Indonesia ini.

Novel 1Q84 adalah novel Murakami terpanjang yang pernah saya baca. Dalam versi bahasa Indonesianya terbagi menjadi tiga novel dengan masing-masingnya berisi 500-an halaman. Jadi totalnya kira-kira ada 1500 halaman lebih. Tak sedikit yang menganggap novel ini agak membosankan, dan menggambarkan hal yang sama berulang. Eka Kur bahkan menganalogikan novel ini bagai mie rebus yang kelewat masak hingga bagai bubur kertas, atau percintaan yang kelewat lama hingga kelelahan sebelum orgasme. Benard Batubara pun memiliki pandangan serupa. 

Kebiasaan Murakami yang hobi sekali memanjang-manjangkan adegan memang pada beberapa bagian membuat waktu terasa lambat. Walau begitu, bagi saya, novel ini menyenangkan dengan caranya sendiri. Sekalipun ada beberapa lembar yang saya lewatkan, itu karena saya tak sabar mengetahui narasi berikutnya, bukan karena bosan pada deskripsi yang (dianggap) bertele-tele.  

Saya suka cara Murakami mengaitkan perihal yang satu dengan yang lain. Menarik benang merah dari segala kebetulan dan kesengajaan. Hal tersebut, serta perpindahan sudut pandang dan waktu yang ia gunakan, justru mengingatkan saya pada karya-karya Eka Kurniawan. Walau tulisan Eka Kur biasanya lebih dinamis dari Murakami, namun ada 'rasa' yang sama saat satu peristiwa dan tokoh bertalian dengan peristiwa dan tokoh lain. Juga deskripsi yang 'penting-nggak-penting' pada karya kedua penulis ini.

Bagaimana yah, mungkin saya sudah terbiasa dengan gaya Murakami dan terkadang itulah yang saya cari ketika membaca novelnya. Alur yang lambat dan percakapan yang cerdas. Ohya, ngomong-ngomong soal percakapan, dialog-dialog Murakami adalah favorit saya. Di sanalah terlihat jelas karakter tokoh-tokohnya. Dalam 1Q84, ada Tengo yang 'lurus dan tidak neko-neko', Fuka Eri yang unik, apa adanya, dan tak banyak bicara, Komatsu yang suka mengambil risiko, Tamaru dan Aomame yang berhati-hati dan tampak sangat profesional. 

"Kau sedih kalau orang itu tidak datang lagi," tanya Fuka Eri (dengan nada tanpa tanda tanya)
"Mungkin," kata Tengo, lalu meminum teh.
"Karena tidak bisa bersenggama."
"Antara lain."
(Buku 2, Hal 232)

Murakami juga suka sekali menggambarkan kesendirian-yang-bebas-kesepian pada tokoh-tokohnya. Sebagai tokoh utama, Tengo dan Aomame pun begitu. Keduanya dikisahkan memilih hidup mandiri sejak usia muda karena kekecewaannya pada orang tuannya. Sebagai anak penganut jemaat, Aomame terbiasa menemani sang ibu menyiarkan keyakinannya dari satu pintu ke pintu lain dan membaca doa keras-keras saat makan di sekolah. Alhasil, ia pun dijauhi teman-temannya dan terbiasa sendiri. Serupa dengan Aomame, Tengo menghabiskan minggunya dengan menemani sang ayah berkeliling menagih iuran NHK. Tengo malu dan tak suka, Aomame pun serupa. Mereka merasa tak punya masa kecil yang bahagia.

Aomame di tempat persembunyiannya

Kemudian, cerita mengalir mulai dari kehadiran Fuka Eri sebagai penulis muda yang karyanya dituliskan kembali oleh Tengo. Dan Orang Kecil yang katanya mampu menguasai dunia 1Q84, dunia berbulan dua yang tanpa sadar sedang ditinggali Tengo dan Aomame. 

Kesendirian itu diletakkan Murakami pada tiap sudut kamar Tengo dan ruang hidup Aomame. Keduanya menjalani hidup tanpa benar-benar mau 'terikat' dengan banyak orang. Keduanya 'memelihara' rindu yang jadi pelita dalam hidup mereka yang tampak biasa cenderung suram. Kerinduan yang dipelihara selama 20 tahun lamanya. Kerinduan yang -kalau kata Payung Teduh- selalu muda. Selalu segar dalam ingatan mereka bagaimana tangan Amomame menggenggam Tengo saat SD dulu. Satu-satunya momen kedekatan yang jadi kekal dalam ingatan. Romantis? Tentu! Realistis? Hmm...

"Kalau seandainya kamu benar-benar bertemu dengannya, kalian mau apa di papan luncur?"
"Kami berdua mau melihat bulan."
"Sangat romantis," kata Tamaru lembut.
(Buku 3, Hal 493)

Persetubuhan, seperti karya Murakami lainnya, ada di beberapa lembar yang diletakkan Murakami 'sesukanya'. Uniknya, di 1Q84, persetubuhan bukan sekadar adegan erotis tapi juga cara sakral untuk 'menyalurkan energi' (saya mencari kata-kata yang lebih tepat dari ini, tapi kira-kira begitulah) yang dibutuhkan. Dan, lagi-lagi seperti karya lainnya, adegan erotis selalu ditampilkan dengan 'meng-innocent-kan' tokoh laki-lakinya, alias Tengo. Misalnya pada adegan persetubuhan paling 'bikin kaget' (tapi sudah saya duga sih pasti ada adegan ini antara kedua tokoh, Murakami gitu loh) antara Tengo dan Fuka Eri. Tengo sebagai 'penerima' mengikuti alur Fuka Eri begitu saja. Seperti mengerjakan tugas administratif, katanya. Prosesnya sangat prosedural, dari sini ke sini lalu ke situ, oh sudah selesai yah, oke bobo, besok bangun bagai tak ada apa-apa. 



Begitulah. Lalu adegan persetubuhan lain antara Tengo dan suster di RS tempat ayahnya dirawat. Eh bukan adegan persetubuhan sih, yah nyerempet lah (mengingatkan saya pada Toru di Norwegian Wood yang tahu-tahu melakukannya bersama pemilik tempat tinggal, entah siapa). Intinya Tengo ini seolah berada di situasi yang 'yah mau bagaimana lagi'. Hahaha.

Semula saya kira kisah Tengo, Fuka Eri, dan Aomame Vs Orang Kecil yang memicu bulan jadi 2 ini adalah inti dari kisahnya, tapi usai membaca sampai kelar. Saya pikir intinya adalah Tengo dan Aomame yang berusaha keluar dari dunia Orang Kecil dan menuju dunia mereka sendiri, dunia tempat keduanya bisa bersama. 

Nah, soal akhir cerita, menurut saya novel inilah yang paling anti-klimaks ending-nya. Di buku tiga, sejak bab 30 hingga tamat, adalah bagian terfavorit saya dari total 1500an halaman itu. 

Tidak perlu dipaksakan menjelaskan semuanya sekarang. Mereka berdua bisa mengisi kekosongan pelan-pelan sambil jalan --kalau memang ada kekosongan yang harus diisi. Bagi Tengo, asalkan ada yang bisa ditanggung berdua-- biarpun itu kekosongan yang terbengkalai atau teka-teki yang takkan pernah terpecahkan --rasanya dapat ditemukan kebahagiaan yang pernah menyerupai cinta kasih.
(Buku 3, Hal 531)
Setelah berlembar-lembar adegan Aomame menunggu Tengo di balkon apartemen persembunyiannya, akhirnya keduanya bisa bertemu. Jujur, semula saya sedikit was-was Murakami tak jadi mempertemukan keduanya. Tapi, untunglah tidak begitu (eh, spoiler). 

Selain itu semua (dan banyak hal yang tidak saya tuliskan tentu saja), ada satu bagian yang cukup menyedihkan ketika Aomame mengenang sahabatnya Tamaki Otsuka. Kala itu, Aomame mengenang Tamaki sambil membandingkan dengan dirinya sendiri. Tamaki yang ceria sementara Aomame yang pendiam dan penyendiri. Si ceria itu akhirnya mati bunuh diri, sementara Aomame yang dulu muram tetap bugar.

Jadi, begitulah review yang tak seperti review ini. Saya pribadi menikmati sekali membaca novel ini.


sumber gambar:
- ichikewhachiyon.blogspot.co.id
- randomrandomdavid.wordpress.com

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments