In puisi

Sepandangan

Dari anak tangga yang pertama, aku bisa melihatmu gelagapan mencari-cari alat makan, lalu kamu tarik kursi pertama yang biasa disenderkan pada dinding, kali ini kamu biarkan menggantung, dan punggungmu menjadi canggung. Di hadapanmu ada meja kosong dan di kepalamu ada sampah yang mulai busuk. Aromanya dapat kucium bahkan dari anak tangga yang pertama.

Dari anak tangga yang kedua. Segelas gemetar ditanganmu yang tremor. (Mungkinkah hatimu bisa juga lelah padahal sudah mati dari dulu?). Airnya masuk ke dalam saku kemejamu, merembes ke dalam jiwamu yang berlubang sementara kerongkonganmu tetap kering. Kalau kamu salahkan gelasnya artinya kamu bersungguh-sungguh ingin membuatku tertawa, bahkan dari anak tangga yang kedua.

Ada gerimis di luar yang tersangkut pada helaian rambutmu.


Related Articles

0 comments:

Post a Comment

Menurut kamu, gimana?