In puisi

untuk kemarin yang indah

pada malam-malam kesekian
memeluk kemarin yang menyisakan halu si na si
halu si na si tidak mengadakan apa-apa selain 
pilu yang kian jadi.
pelukanmu pada kemarin ;
erat-hangat-retak-remuk-berjatuhan
menjadi denting denting pada ubin yang dingin

pada ubin yang kian dingin
matamu berkaca-kaca
pada ubin yang terlalu kusam untuk berkaca
matamu menjadi dingin

pada kemarin yang terlepas dari pelukanmu
kamu memeluk angin sampai kembung

pada kemarin yang tidak datang lagi
kamu menyusul
berjalan mundur.

Related Articles

0 comments:

Post a Comment

Menurut kamu, gimana?