In cerpen

Waktu Kepergian

Dia berangkat nanti malam. Dia memberitahukannya padaku selintas melalui telepon, bukan berpamitan, hanya memberitahukan secara selintas. Maka aku pun tidak merasa perlu untuk memberikan salam perpisahan atau pelepasan. Ucapan sampai bertemu lagi yang akan menjadi klise untuk kita berdua tidak kuizinkan keluar dari mulutku, melainkan hanya 'hm..oke' untuk merespon kabar kepergiannya nanti malam.
Mungkin sama seperti sepuluh tahun yang lalu saat kita mengenal tanpa prosesi perkenalan yang biasa. 

Kita berdua sama-sama tidak menyukai basa-basi, jadi saat dia menyikut tanganku tidak sengaja dan aku membalasnya dengan melemparinya kerikil yang kutemukan di kakiku, itulah cara kita saling berkenalan.
Mungkin dulu kita telah banyak sekali tertawa bersama, itulah mengapa di dunia yang adil ini, kini saatnya kita untuk sama-sama menangis (bukan menangis bersama).
Kita menangisi banyak hal, hingga hal-hal yang dulu kita tertawakan.

Seperti saat dulu kita sama-sama menertawakan gadis putih pindahan Bandung yang terjatuh saat rokknya tersangkut sepedah, kini dia menangisi gadis putih itu yang menikah dengan teman sekelas, ternyata dia menyukainya sejak pertama kali menertawakannya. Dia menangisinya, dan aku ikut menangis bersamanya. 
Tapi saat ucapan perpisahan explisit yang dia kabarkan, dia tidak menangis, maka aku tidak turut menangis bersamanya. Mungkin kita berdua telah sama-sama lelah. bahkan untuk menangis dan tertawa. Intonasi kita menjadi datar sedatarnya, mungkin kalau dia mengucapkannya secara bertatap muka denganku , wajah kamipun akan datar sedatarnya. Aku dan dia telah sama-sama menjadi jagoan aktor kelas dunia. Seperti saat aku bilang aku menyukainya, aku bisa mengucapkannya dengan sangat datar, diapun meresponku biasa saja. Kami kehabisan emosi, kami kehilangan ekspresi.

Dia sudah berangkat malam ini.

Aku tidak melepasnya, aku membayangkannya saja.
Membayangkan caranya pergi. Mungkin pertama-tama orang tuanya mengenggam tangan disampingnya, lalu menangis tersedu-sedu, bahkan sampai berteriak (orang tuanya belum kehabisan emosi), sampai suster dan dokter perlu memegangi tangannya, menariknya untuk keluar ruangan. lalu Ibunya pingsan di depan ruangan, dan dibopong ayahnya menuju kursi panjang. Katanya Ibunya telah siap, tapi mana mungkin bisa benar-benar siap.

Lalu kembali ke dalam ruangan, mungkin pertama dokter akan mematikan mesin mesin yang entah apa namanya sehingga tidak ada lagi garis hijau penanda detak jantung, berubah menjadi gelap. Dokter satu melihat jam tangganya, mengucapkan satu waktu, dan seorang lagi mencatatnya dengan sigap. Lalu dengan sabar para suster dan dokter melepas kabel dan selang-selang yang dimasukan ke dalam tubuhnya, wajahnya satu persatu. Dia menjadi bebas, wajahnya tidak lagi kaku, apakah  dia masih bisa tersenyum?.


*ditulis sesaat sebelum mandi pagi--->info penting*


Related Articles

0 comments:

Post a Comment

Menurut kamu, gimana?