In puisi

kota sedang mendung

jangan menghapus kami

tulisan-tulisan lama atau baru berderit-derit
menarik perhatian
mereka seketika menjadi cerewet saat kota mendung begini

memang saat sedang mendung 
saya suka menghapus mereka, mereka bau dan kotor
mungkin karena pikiran saya sedang busuk saat menulisnya
lalu saat saya waras, saya jijik
saya ingin menghapus mereka, sebagian atau semua

tapi mereka berdecit-decit, bawel benar!
ingin saya hajar dengan rotan yang biasa dipakai ayah meng(h)ajar saya dulu
kalau sudah saya gertak
mereka menciut
bersembunyi pada koma atau titik atau bahkan spasi
nyali mereka sebesar kelingking saja

tapi lalu saya kehilangan mereka
hingga tinggal koma atau titik atau hanya spasi
sisanya ruang ruang kosong yang dulu ditinggali

Mungkin mereka bosan jika setiap kota mendung
saya hapusi saya sesali

hati saya yang kecil menciut
hati saya lebih kecil dari kelingking.

Related Articles

0 comments:

Post a Comment

Menurut kamu, gimana?