In Life

#eds Penyala 1

kalau harus menyebutkan dua situasi yang paling saya sukai adalah :
1. Berada di tengah-tengah orang yang penuh inspirasi
2. Berada di tengah-tengah anak-anak yang energinya tidak pernah habis.
Poin yang pertama selalu saya dapatkan ketika meeting bersama Tim Penyala dan anggota Indonesia Mengajar. Mereka adalah contoh nyata bahwa untuk merubah sesuatu tidak cukup dengan sebait dua bait kata-kata manis, motivasi dsb. Tapi haruslah tindakan yang nyata, dan di tengah-tengah kesibukan kegiatan mereka, mereka berhasil melakukan banyak perubahan. Anak muda zaman sekarang tidak etislah kalau hanya nyinyir soal keadaan Indonesia, skeptis sama pemerintahan dan sistem politiknya, kalau aksinya hanya koar2 di sosial media alias nihil. Sudah basi merutuki kegelapan, saatnya menjadi lilin-lilin penerang.
Selain teman-teman pengajar muda, orang-orang penuh inspirasi yang saya kagumi adalah para pengurus karang taruna kel.kebon jeruk. Bang Ipul, mantan preman yang sekarang jadi ketua karang taruna dan bang asep 'kaki tangan' bang ipul. Di saat media menampilkan sisi kriminal warga jakarta apalagi yang berekonomi menengah kebawah, faktanya masih banyak orang-orang seperti bang Asep dan bang Ipul yang rela menghabiskan waktu banyak untuk warga Kebon Baru. Kalau dari kecil saya tinggal di perumahan seperti sekarang, pastilah saya tidak begitu aneh sama orang-orang baik seperti mereka, karena dilingkungan rumah saya sekarang pun banyak orang baik yang bisa saya temui. Tapi melihat lingkungan tempat tinggal bang Asep dkk mengingatkan saya pada lingkungan tempat tinggal saya dulu : pemukiman padat, rumah petak, agak kumuh. Dengan mayoritas warga berpendidikan rendah, berekonomi menengah kebawah, warga di tempat saya tinggal dulu memiliki etika yang lumayan payah. Itulah mengapa saya lumayan kaget juga, dengan kondisi yang mirip dengan lingkungan saya dulu, tapi Alhamdulillah etika warganya jauh berbeda. 
Ngomong-ngomong soal orang penuh inspirasi, tidak melulu orang hebat bisa memberikan inspirasi. Sedikit melenceng, pengalaman saya saat masih kuliah d3, bertemu dengan beberapa orang hebat, berdiskusi, saya merasa terinspirasi? sama sekali tidak, justru terintimidasi iya.haha (entah karena pola pikir saya yang cetek barangkali).
Lingkungan yang kedua pun saya dapatkan ketika kegiatan penyala saban sabtu. Anak-anak Sd ini energinya tidak ada habisnya.
Hari ini saya banyak bermain sama Salsa, Calista,Intan,Dini,Zahra,Saira dll.
Baru pertama kali bertemu, mereka sudah bercerita tentang pacar masing-masing. Hahaha kata mereka 'kalau ga punya pacar ga kece ka' hahaha..Salsa bilang dia sudah pacaran sejak kelas 2 SD. saya mau kaget tapi udah gak kaget juga sih karena memang sudah sering dengar. Lalu Salsa cerita lagi, sama pacar yang sekarang, Orfan, 'baru juga satu tahun ka', ya ampun bikin saya mau ketawa lagi. Saya tidak berpikir macam-macam sih karena 'pacaran' definisi mereka berbeda dengan 'pacaran' definisi umum. Saat saya tanya memang ngapain kalau pacaran, mereka jawab, main, itu pun ramai-ramai. haha mungkin mereka hanya melabeli teman dekat menjadi pacar.
Sebelum pulang Siara bilang " kak minggu depan datang lagi loh, awas kalau sampai engga datang, soalnya seru kalau ada kakak-kakak" how sweet!

Related Articles

0 comments:

Post a Comment

Menurut kamu, gimana?