In Life

Sebuah Epilog.

             Rasanya sudah ratusan hari tidak menggunakan kata-kata untuk merangkai kalimat apapun, boro-boro menjadi sebuah cerita (seperti yang sudah diagendakan selama ini), bahkan sebuah puisi singkat pun tak kunjung dibuat. Kalau dicari-cari alasannya, saya sasarkan rasa jengah ketika setiap menulis, akan menjelma menjadi kisah yang kamu sebagai pemeran utamanya. Kalaulah itu cerita pendek pastilah diawali harapan-harapan naif  tentangmu, pun jika itu sebuah puisi jadilah kata-kata mendayu yang terbaca cemas dengan jelas. yah, saya jengah jika harus menulis sambil mengingatmu secara bersamaan. Kemudian saya pun berhenti menulis, berharap dengan begitu saya jadi berhenti pula berpikir dan mengingat hal apa (yang tentang kamu) yang akan saya tulis. 

              Tapi rupanya perasaan padamu persis air bah yang bagaimanapun usaha saya menahannya, akan tumpah juga. Entah mengapa pada kisah yang stagnan bisa banyak kata (atau rasa) yang berdesak-desakan. Kemudian, saya pun mencoba mengalihkan pikiran dengan membaca, tapi ah kegemaran saya terhadap cerpen-cerpen pada media cetak, malah menjebak dengan cara lain. Kisah sederhana khas cerpen koran malah mengingatkan saya pada kisah kita yang tidak mewah namun tetap merasa berkecukupan, paling tidak untuk saya. Maka ah, saya akhirnya punya ide lain, seperti halnya air bah, saya biarkan saja ia tumpah, menggenang, banjir, lalu menunggu sampai surut dan barulah saya bersihkan sisa-sisa lumpurnya, agar dapat saya bangun rumah baru yang anti banjir. Begitulah praktisnya menurut saya. 
      
          Bah ini bermula ketika kedatanganmu beberapa bulan silam. Mungkin perasaan kagum memberi kemudahan membuat prolog baru denganmu. Bagi saya sempurna bukan ketika semua hal terjadi sesuai kehendak, namun ketika pada segala hal kita merasa cukup, dan denganmu segala sesuatu terasa tercukupkan. Tidak melebih-lebihkan hati maupun mengurang-ngurangi rasio. Tapi entah karena apa, teori kecukupan ini hanya ada pada pemahaman sempit saya semata. Hingga (mungkin) padamu, perasaan kekurangan (atau berlebihan) ada dimana-mana, dihatimu yang mengharapkan ketenangan, juga di akalmu yang mencari-cari Tuhan.

           Ada masanya sepeninggalanmu, perasaan tetap dekat membuat saya merasa seperti tidak berpisah, tapi ah ternyata , pikiran adalah satu-satunya sebab yang membuat saya merasa dekat. Faktanya, kita berjauhan sejauh jarak sebenarnya, sejauh dua akal yang enggan saling mengenang. Saya pun melakukan perjalanan yang kilometernya ratusan, berharap dalam ketersesatan saya menemukan. Tapi benarlah tidak mungkin bisa menemukan tanpa tahu sedang mencari apa, selagi alam bawah sadar saya masih berandai-andai kamulah temuannya. Hingga sadarlah saya, perjalanan fisik tidak cukup ampuh kala pikiran tetap pada titik yang sama, stagnan. Lalu pernah pula saya menunggu. Persis barang titipan yang menunggu diambil pemiliknya, saya tidak mengizinkan diambil siapapun selain kamu. Saya diam seperti semula, sabar sekaligus cemas, cemas karena umumnya manusia  tidak tahu apa yang ia miliki.

        Bagaimanapun juga, seperti tujuan semula setelah tumpah bah ini, lalu menunggu sebentar hingga surut, sekaranglah saatnya saya bersihkan lumpur-lumpur yang terbawa dari selokan dan genangan. Saya tidak (ingin) menyangka bahwa pada tawa dan senyum ada pula bau bacin dan pesing yang tersirap dari sisa-sisa kebanjiran ini. Saya pun merasa perlu berjinjit dan menggulung celana agar tidak terkena jentik penyakit dari banjir rasa ini. Saya rasa sudah cukup bulan yang terpakai untuk membiarkan lumpur ini mengering dan meninggalkan bau yang pekat. Sudah saatnya, saat ini juga saya bersihkan, Walaupun akan menghabiskan banyak cairan karbol dan kain lap dadakan dari sisa pakaian bekas. Sungguh saya pun ingin cepat-cepat mendiami tempat yang bersih, kering dan wangi. Saya harap karbol yang saya beli di jejeran produk diskon di  swalayan tadi ampuh mengusirmu jauh-jauh. 

Sejauh akal yang enggan mengenang.

Related Articles

0 comments:

Post a Comment

Menurut kamu, gimana?