In Life

Manusia yang Manusiawi

Jika kejujuran adalah proses menelanjangi diri. Apakah kamu masih  mau memakai baju?

Kita -atau saya- mungkin sesekali terlalu tebal memakai bedak meski tidak ada kerut yang hendak disamarkan. Mungkin saja alasan lainnya agar debu tidak masuk ke dalam pori-pori wajah dengan mudah. Pori-pori sudah disumbat terlebih dahulu dengan partikel bedak. Pfiuh, melegakan bukan?. 
Lalu ada teman bertanya, apa bedanya butiran bedak dengan debu? 

Apa yaaaah. yaaah beda!
Bisa gawat kalau tidak tahu bedanya, jangan-jangan selama ini bedakan memakai debu.

Eh, rasanya kejujuran tidak sedangkal melepaskan pakaian. Karena toh masih ada kulit yang menutupi lalu lintas darah, makanan dan tempurung yang menutupi pikiran. Mungkin harusnya kejujuran seperti menguliti ari, mengupas daging, sampai yang terlihat hanya tengkorak.Wajah kejujuran menjadi demikian menyeramkan. Menyeramkan karena kita tidak terbiasa melihat tengkorak. Kan, kebiasaan seringkali membiaskan, persis seperti dosa yang tidak kentara lantaran dilumrahkan.

Saya tiba-tiba merasa iri dengan wanita di Transjakarta yang saya temui beberapa hari yang lalu. Wanita yang berkata pada seorang ibu yang memangku anaknya."Ibu tolong kaki anaknya jangan sampai kena celana saya, saya mencuci sendiri". Saya tidak akan berkata begitu, karena mesin cuci cukup memudahkan semuanya. Tapi mungkin saya ingin bilang "Ibu saya lelah, tolong jangan sampai kaki anak ibu menendang-nendang kaki saya". yah begitu saja pun juga boleh. Tapi pada akhirnya saya hanya akan tersenyum sambil bilang "tidak apa-apa".  Seperti ketika saya tertawa kering saat menanggapi dengan santun candaan-abal-abal di kantor, bagaimana kalau tiba-tiba saya bilang "tidak-lucu-sama-sekali, bisa-diam-tidak-saya-mau-kerja." Hahaha. Membayangkan saya berani mengatakannya saja sudah menjadi lucu, atau seperti ketika saya harus membalas pesan bbm dari rekan kerja yang hanya menyapa tanpa mengangkat obrolan yang jelas, yang kemudian ketika tidak saya hiraukan, saya lantas di cap sombong. hahaha ya memang saya sombong, mungkin. Toh saya membalasnya dengan  berkata "maaf, bbmnya suka ga aktif". dan bukannya "apaan sih ga penting!". 

Begituloh maksud saya, kejujuran yang sesederhana itu, yang diserempet oleh persoalan etika. Padahal manusia yang terlalu tebal memakai bedak akan persis seperti vampir. Vampir dalam seri Twilight, tentu saja bukan yang betulan. Manusia yang kurang menjadi manusia.

Apa yah jadinya kalau suatu hari saya muncul sebagai tengkorak?

Related Articles

0 comments:

Post a Comment

Menurut kamu, gimana?