In puisi

Buah Tangan yang Tidak Terpesan

Bola matamu menggantung pada rantai besi
membentuk inisial yang mampir pada tepi lidah
tiap kali lutut merebah pada sajadah
seperti buah tangan untuk seorang teman
dari kota-kota tempatmu memberi kenang-kenangan.
kata kau, itulah pemberianmu yang cuma-cuma
bekal yang membuat perih pundakku selama perjalanan.

yang kekal adalah ingatan yang minta dilunasi
dan janji yang tak pernah tunai
menjadi gelembung tanya yang besar dan mudah pecah
isinya adalah uap tawa yang mengembun menjadi air mata.

Tangan-tanganmu menyilang menjadi anyaman
seperti gelang rotan yang mengunci pergelangan tanganku
kata kau, pergelangan tangan saja
nyalimu menyasar ketika menuju jariku.

Related Articles

0 comments:

Post a Comment

Menurut kamu, gimana?