In Life Travelling

TBIM Goes To Baduy.

Akhirnya setelah lama merencanakan, membatalkan, kemudian merencanakan kembali, terlaksana juga kami pergi ke teritorial Kanekes alias Baduy. Bersama rombongan dari teman-teman The Ants Adventure, kami berangkat dari stasiun Tanah Abang menuju stasiun Rengkas Bitung (3 jam perjalanan). Tiba di Rengkas Bitung kami melanjutkan perjalanan ke Ciboleger dengan menggunakan elf (2 jam perjalanan). Dari Ciboleger inilah kami memulai perjalanan yang sebenarnya *tsah.

Masyarakat Kanekes atau Baduy terbagi menjadi tiga kelompok yaitu, tangtu (Baduy dalam), penamping (Baduy luar) , dan dangka. Orang Baduy dalam inilah yang paling ketat mengikuti adat istiadat nenek moyang mereka. Misalnya saja mereka tidak diperkenankan menggunakan sarana transportasi, alas kaki, dan teknologi. Cara mudah membedakan orang Baduy dalam dan Baduy luar adalah dari pakaiannya. Lihat saja, orang Baduy dalam menggunakan pakaian yang ditenun sendiri berwarna hitam/putih dengan pengikat kepala berwarna putih sementara orang Baduy luar menggunakan pakaian dan ikat kepala berwarna hitam.

Baduy dalam terbagi menjadi tiga desa utama yaitu, Cikeusik, Cikertawana, dan Cibeo. Tujuan kami adalah desa Cibeo. Perjalanan dari Ciboleger menuju desa Cibeo memakan waktu kurang lebih 5 jam. Melakukan perjalanan bersama teman-teman TBIM ternyata menguras energi extra. Energi saya banyak terbuang percuma untuk meladeni kegilaan teman-teman yang batas ambang kewarasannya sudah mentok di angka 0. Tapi yey! Kami adalah rombongan pertama yang sampai *sombong*.

Jangan berharap menemukan kamar mandi di desa Cibeo. Saya sudah ketawa duluan karena harus *sensor* *sensor* di kali. Barulah saya sadari bertapa beruntungnya menjadi laki-laki karena bisa *sensor* *sensor* *sensor*. Hahaha. 

Paras anak-anak orang Baduy dalam ini sangat menarik dipandang *ahsek*.  Kulit mereka putih dengan bola mata bulat dan besar.  Sayang sekali mereka telah dijodoh-jodohkan sejak kecil *penonton kecewa*. 

Oh iya, ada larangan bagi orang Baduy luar memasuki teritori Baduy dalam. Dan ketika orang Baduy dalam melanggar peraturan atau menikahi orang Baduy luar maka mereka serta merta menjadi orang Baduy luar. (cmmiw)

Keesokan harinya kami pulang dengan rute berbeda. Saya, Kak Renny dan Ayu dengan sok tahu berjalan paling depan dan (yey) tiba paling pertama *sombong lagi*. Bayangan kuah bakso panas pedas menjadi motivasi utama kami untuk tiba dengan cepat (iyain aja). 

Perjalanan ini sangat mengesankan. Selain karena pengalaman pertama (dan semua yang pertama pasti mengesankan *iyain aja lagi*). Teman perjalananya pun super-luar-biasa. Berkali-kali pegal karena banyak tertawa dan ketakutan ketika menyebrangi salah satu jembatan sirna karena lagi-lagi tidak tahan untuk menertawakan kelakukan teman-teman yang… ah udahlah. 

Dan satu hal yang tidak akan saya lupa, dari sinilah saya sadar betul bahwa ternyata air putih itu enaaaaaaaaaak luar biasa. Hahaha.

Related Articles

0 comments:

Post a Comment

Menurut kamu, gimana?