In Life

Sinetron dan Hal-hal yang Belum Selesai

Saya menulis ini lantaran seharian menemani nenek saya menonton sinetron. Saya ingin mengamuk, bukan kepada nenek saya, tapi kepada produser film yang tega-teganya memberi pilihan yang seperti itu.

Sinetron adalah tayangan yang dapat dinikmati bahkan tanpa memutar otak sedikit pun (karena akan kesal juga kalau terlalu banyak memakai otak saat menontonnya). Dilihat dari polanya, Sinetron tidak jauh berbeda dengan dongeng anak yang memiliki tokoh baik, tokoh buruk dan keajaiban yang dipaksakan. Bedanya dongeng anak dikemas untuk memberi pesan moral (dengan akhir yang selalu menyenangkan untuk membuat anak-anak merasa aman), sementara sinetron membawa pesan moral sebagai tempelan agar terkesan sedikit 'penting'. Misalnya sinetron yang aktrisnya mengenakan jilbab, disertai scene berdoa berderai air mata dengan suara yang sama sekali tidak lirih. Jadilah sinetron dengan tempelan religius. Walaupun isinya jauh dari nilai agamawi.

Katanya mayoritas penggemar sinetron adalah kalangan menengah ke bawah. Mungkin karena mereka memang tidak punya banyak pilihan. Misalnya saja nenek saya itu. Di desa tempat nenek saya tinggal, channel TV tidak sebanyak di kota besar. Seingat saya hanya ada SCTV, RCTI, INDOSIAR, dan Trans TV. Mayoritas acara pada channel yang saya sebutkan itu ya Sinetron. Disana tidak banyak perpustakaan umum, pusat perbelanjaan, ataupun museum, yang saya tahu paling alun-alun kota. Jadilah kotak ajaib elektronik itu yang menjadi alat penghibur. 

Saya pikir maraknya acara sejenis, bukan masalah tingginya minat penonton atau rating, karena bagaimanapun juga masyarakat hanya menerima dan memilih sementara produsen yang menyediakan pilihan. Kalau tidak diberi pilihan yang ringan seperti itu, saya yakin masyarakat dapat dengan mudah beradaptasi pada acara yang lebih bermutu. Masalahnya tidak semua orang memiliki pilihan yang beragam. Tidak semua orang punya televisi kabel dengan berbagai program. Tidak semua anak memiliki pendamping yang mampu membimbing. Kalau dicermati, sinetron memaksa kita mengikuti konstruksi sosial yang sok tahu, Seperti remaja yang dicekoki adegan percintaan yang membuat mereka tumbuh dengan dependensi yang tidak pada tempatnya. Coba pikir, darimana anak-anak SD jaman sekarang tahu yang namanya pacaran kalau bukan acara-acara di televisi.

Tapi barangkali ada sisi baik dari sinetron yang belum bisa saya tangkap. Walaupun begitu tetap saja saya berharap yang berwenang ini memberikan pilihan yang lebih berwawasan, Agar kesepian-kesepian yang coba diisi televisi tidak lagi sekedar membodohi.


note : saya memang mengeneralisir sinetron yang ada, karena bisa saja ada sinetron yang 'bagus' (meski saya tidak tahu).

Related Articles

0 comments:

Post a Comment

Menurut kamu, gimana?