In Life

Persoalan Mencintai

Saya hanya tahu kalau saya sedang jatuh cinta.
Masalah mau dibawa kemana cinta ini selanjutnya, masih di perawangan.

Saya jatuh cinta pada anak-anak ini, yang masih minim kosakata tapi begitu kaya ekspresi. Kepada Friska yang baru pada tahap meniru ucapan temannya tanpa memahami betul maknanya, kepada Fira pemilik mata bening yang keceriannya tidak pernah alpa, kepada Intan, si pemalu yang kini sudah berani bernyanyi di hadapan seluruh teman, kepada Ghendis yang selalu bersemangat dan patuh, kepada Aini yang sabar mengajari teman yang lebih junior, kepada Putri yang ingin segera mahir membaca, kepada Elsa si periang yang suka bercanda, kepada Chantika yang cantik dan penurut, kepada Fahri yang usil namun cerdas, kepada Ari yang suka mewarnai, kepada Whendy, si jahil yang sigap membantu, kepada Awa yang senyumnya menawan, Indah, Fatan, Syifa, Risma, dan semuanya, bahkan kepada Tasya yang meskipun sudah puluhan kali kena omel tetap tidak kapok bermain bersama. 

Tapi lagi-lagi akhir cinta ini masih di perawangan.

Saya tidak tahu (atau mungkin tahu) akan seperti apa jadinya beberapa bulan ke depan, satu tahun lagi, dua tahun lagi. Apakah cinta ini masih menemui asalnya atau tidak? Saya bahkan tidak tahu apakah cinta ini sudah tepat atau belum.

Saya hanya tahu saya belum ingin mengakhirinya. Saya (sepertinya) tahu untuk membuatnya tidak berakhir, diam dan sekedar berharap-harap adalah pilihan terakhir. Saya (seharusnya) tahu mencintai bukan sekedar mengisi waktu luang, mencintai adalah menyediakan waktu luang. Saya (seharusnya) tahu mencintai dengan separuh hati tidak akan membuat saya merasa utuh.

Pada akhirnya mencintai bukan lagi sekedar predikat. Mencintai adalah kata kerja aktif. Mencintai selalu menagih aksi.


Related Articles

0 comments:

Post a Comment

Menurut kamu, gimana?