In cerpen

Pulang


“Malam ini kamu berangkat ke Banjarnegara, Banyak sekali korban jiwa.” 
Perintah Pak Kardin, atasanku, pagi tadi mencuatkan berbagai ingatan tentang kota itu dan kamu. 

Tiba-tiba suaramu yang memintaku pulang beresonansi di kepalaku. 
“Pulanglah, sebentar lagi aku resmi menjadi perawat, Ibu mengadakan syukuran.”
Gelombang suaramu tiba melalui pesawat telepon. Bergetar.

Seminggu setelah penolakan halus dariku waktu itu, kudengar kabar kamu telah menikah. Selamat! Kamu akhirnya terbebas dari fantasi hubungan kita. Sementara aku melakukan pelarian konyol ke ibu kota, dirimu berlari ke dalam rumah untuk selamanya menetap; berumah tangga.

Itulah terakhir kali kita saling berbicara, selanjutnya aku berbicara padamu melalui balon-balon percakapan di dalam kepala. Menikah. Prosesi pernikahan kita pun hanya di dalam kepalaku.
“Piyambakipun iki adhine awakmu, edan!”1
Peringatan Agus, teman semasa kecil dulu, juga ikut mengekal dalam kepala. Segaja dikekalkan agar memidana rasa yang menjadikannya kriminal norma.

* * *
Sewaktu kukenali wajahmu yang berlumur lumpur pada tubuh yang sedang dibersihkan tim BPBD, seketika aku mundur menjauh. Aku pikir bisa saja karena aku sudah lama merindukanmu sampai aku membayangkan wajahmu pada wajah siapa saja. Entah mengapa sedikitpun aku tidak ingin memastikannya. Aku tidak ingin mendapat kepastian kalau itu memang dirimu. Memiliki harapan kalau kamu masih selamat di luar sana adalah pilihanku saat ini. Membodohi diri sendiri saat ini adalah salah satu cara membuatku bertahan.

Tapi itu memang wajahmu.

Seorang petugas menyerahkan sebuah dompet untuk segera kuperiksa. Kartu tanda pengenal dengan namamu kusalin dalam sebuah buku besar bertuliskan Korban Bencana yang Tewas pada sampul depan.

“Dia adik saya pak.” Dia juga kekasih saya pak.
“Saya turut berduka.” Ucapan simpati disampaikan dengan begitu terburu-buru. Pak Kardin yang ternyata memperhatikan, menghampiri.
“Istirahat dulu saja kamu.” Beliau menepuk punggungku dengan berat. Aku tidak menyangka ketika akhirnya aku pulang, kamu justru berpulang. 

“Tidak usah, tidak apa-apa.”
Pikiranku harus disibukan. Aku kembali beralih pada tanda pengenal milikmu. Pandanganku turun pada status pernikahan. Belum Menikah.


1 Dia itu adikmu, gila!

*repost dari  blog saya yang lain, dengan tema throw back 2014; Bencana Banjarnegara

Related Articles

0 comments:

Post a Comment

Menurut kamu, gimana?