In Review

[Review] Andrea Hirata dalam Ayah

http://www.goodreads.com/


Kalau tidak salah ingat ada dua buku yang pernah saya baca yang berkenaan dengan ayah, novel Ayah ini dan novel Sabtu Bersama Bapak (SBB) milik Adhitya Mulya. Meskipun dengan tema yang sama, namun kesan kedua buku ini jauh berbeda. Jika setelah membaca SBB pembaca mungkin akan mengagumi sosok ayah, namun jika membaca buku Ayah, barangkali pembaca (laki-laki) ingin merasakan menjadi ayah *sotoy*. Tapi yang saya suka dari novel Ayah, buku ini kaya sekali rasa, bukan hanya haru seperti yang sebelumnya saya bayangkan.


“Aya, aya.”
Sabari tertegun. Itulah kata pertama yang diucapkan anaknya. Perasaan Sabari melambung. Dipeluknya anaknya rapat-rapat. (hal 192)

Novel Ayah adalah Cinta dari Sabari yang naif kepada Lena yang bahkan melirik Sabari pun tak sudi. Cinta dari Sabari yang naif pada Zorro yang membuatnya semangat menjalani hidup. Cinta dari Sabari yang naif pada ayahnya yang mengajarinya puisi. Cinta dari Tamat & Ukun pada Sabari yang naif. Cinta dari Zorro pada Sabari, ayahnya yang paling tulus dan bersih hati.

Saya suka karena semua rasa yang berupa-rupa itu dapat bertalian dengan cinta Sabari pada Lena yang akan dinikmati dari awal-awal halaman hingga kisah ditutup. Kisah yang romantis sekaligus miris. 


Ayahnya sering mengatakan bahwa Tuhan selalu menghitung, dan suatu ketika, Tuhan akan berhenti menghitung. (Hal 48)

Dan selain semua cinta-cintaan yang tulus itu, penulis juga menghibur dengan komedinya yang (walaupun kadang-kadang mengesalkan) mudah untuk disukai.


Walaupun novel ini terbilang ringan, namun jika diperhatikan baik-baik dalam setiap potongan cerita tiap tokoh mengajarkan dua hal yang cukup penting; mengenai perjuangan & inspirasi. Bahwa ketika para tokoh (bukan hanya Sabari, si tokoh sentral) menginginkan sesuatu, sesederhana apapun itu, mereka akan berjuang habis-habisan. Dan bagaimana tokoh a terinspirasi dengan tokoh b, tokoh c terinspirasi dengan tokoh d, bahkan pada karakter yang barangkali teremehkan (tak disadari dientengkan) oleh orang yang berbeda. Seolah penulis ingin menyampaikan bahwa siapapun kamu, kamu bisa menginspirasi siapapun dan jadilah manusia yang mudah terinspirasi oleh siapapun.


Bukan Andrea Hirata namanya, kalau jalinan kata-katanya tidak indah. Bagi saya keindahan adalah unsur penting dalam sebuah cerita. Barangkali masyarakat Melayu diberi berkah kemampuan untuk itu. Dan jika kamu menyukai puisi, penulis secara murah hati membagikannya melalui tokoh sentral sang penggemar puisi.

Sayangnya saya sempat bingung pada beberapa bagian, Tapi akan spoiler sekali kalau saya ceritakan kebingungan saya berhubung bingungnya baru muncul di akhir halaman. Nah jadi jika ada yang sudah membaca, silakan lihat halaman 105 lalu tolong beri saya pencerahan :p


Tak ada, tak ada
Meski Kau tenggelamkan aku di dasarmu
Tak ada bahagia yang dapat kau sembunyikan dariku
(Amirza)

Related Articles

0 comments:

Post a Comment

Menurut kamu, gimana?