In Review

[REVIEW] Tersesat Bersama Kafka dan Murakami


Kafka on The Shore by Haruki Murakami

Kafka Tamura, anak laki-laki yang kabur dari rumah dan berharap dapat bertemu dengan ibu dan kakak yang meninggalkannya ketika kecil. Sementara dalam dunia paralel, Nakata, pria tua yang bisa berbicara dengan kucing setelah kehilangan sebagian besar memorinya. Keduanya melakukan perjalanan tanpa tahu harus kemana dan melakukan apa. 

“I Know. You’ve never killed anyone, and don’t want to. But listen to me- there are times in life when those kinds of excuses don’t cut it anymore. Situation when nobody cares whether you’re suited for the task at hand or not..” ( Hal 150)

Jangan berharap kenikmatan membaca buku ini (seperti karya Murakami lainnya) ada pada ketegangan rasa penasaran dan kelegaan saat rasa penasaranmu terpenuhi. Murakami menjadikan cerita sebagai pembungkus berbagai metafora yang disajikan dengan sesukanya. Pada Kafka on The Shore, hujan pun bisa menjadi hujan ikan. Pada beberapa bagian Murakami bisa menjadi sangat detail mendeskripsikan tempat, namun bisa begitu tidak peduli saat menerangkan waktu.

 Kabar baiknya seluruh lembar bisa kamu nikmati dengan santai (bahkan kadang sangat santai). Walaupun adakalanya Murakami membuat ceritanya berjalan begitu lambat (dan bisa jadi membosankan), namun setiap kata-kata terutama dialog tidak ada yang terasa sia-sia. Percakapan adalah bagian yang paling saya sukai. Murakami sungguh lihai menyelinapkan makna-makna kehidupan dalam percakapan tanpa terasa sok bijak.  Percakapan mengenai pemikiran filsuf Hegel pun  diselipkan di tengah adegan seks sekalipun.

“…Boundaries between things are disapearing all the time. Maybe that’s why you cant’t speak to cats anymore.” (Hal 201)

           Tidak ada yang benar dan salah dalam buku ini. Tidak ada batasan akan apapun. Segala hal bisa sangat berbeda dalam dunia nyata tapi bisa juga sangat serupa dengan apa yang dirasakan pembaca.

“Listen Kafka. What you ‘re experiencing now is the motif of many Greek tragedies. Man doesn’t choose fate. Fate chooses man. That’s the basic worldview of Greek drama. And the sense of tragedy – according to Aristotle – comes, ironically enough, not from the protagonist’s weak points but from his good qualites…”
 (Hal 210)

Seperti bagaimana akhirnya Kafka menyadari, sejauh apapun dia berlari, dia tidak akan bisa bersembunyi.

Distance won’t solve anything, the boy named Crow says. (Hal 215)

Dan bagaimana sudut pandang tiap tokoh memberi wacana baru yang boleh jadi bisa kita terima atau tidak sama sekali.

“My grandpa always said asking a question is embarrassing for a moment, but not asking is embarrassing for a lifetime.” (Hal 265)

 “Perhaps,” Oshima says, as if fed up. “Perhaps most people in the world aren’t trying to be free, Kafka. They just think they would be in a real bind. You’d better remember that. People actually prefer not being free.” (Hal 328)

Bagaimana semua emosi; rasa amarah, cinta, sesal, takut, nafsu termanifestasi dalam diri tiap tokoh.

 “Anyone who falls in love is searching for the missing pieces of themselves. So anyone who’s in love gets sad when they think of their loves. It’s like stepping back inside a room you have fond memories of, one you haven’t seen in a long time. It’s just a natural feeling. You’re not the person who discovered the feeling, so don’t go trying to patent it. Okay?” ( Hal 309)

Bagaimana Kafka dan Nakata mencari memorinya sementara Miss Saeki mencoba menghilangkannya.

“Memories warm you up from the inside. But they also tear you apart.” (Hal 408)

Dan itulah berbagai alasan saya membaca hingga selesai karya-karya Murakami. Semua kata-kata indah yang tidak terkesan dipaksakan dan kebebasan memaknai apapun yang diberikan Murakami. Suka-suka penulis. Suka-suka pembaca.

“Every one of us is losing something precious to us,” he says after the phone ringing.
“Lost opportuities, lost possibilities, feeling we can never get back again. That’s part of what it means to be alive. But inside our heads – at least that’s where I imagine it – there’s a little room where we store those memories. A room like the stacks in the library. And to understand the workings of our own heat we have to keep on making new reference cards. We have to dust things off every once in a while, let in fresh air, chage the water in the flower vases. In other words, you’ll live forever in your own private library.”


Related Articles

0 comments:

Post a Comment

Menurut kamu, gimana?