In Life

Laki-laki yang suka sekali duduk di depan danau UI

Saya bertemu dengannya kira-kira setahun yang lalu. People say, opposite attracts but science proves similarity attracts more. Walau berbeda pada hal-hal superfisial, kami memiliki sejumlah kesamaan yang sempat membuat kami terheran-heran pada awal pertemuan. 

Melihatnya membuat saya merasa sedang bercermin.  Ketakutan saya ada di dalam matanya juga. Optimisme naif saya ada di dalam tawanya juga. Saya merasa dekat sekaligus asing. Dia menampakkan luka yang saya sembunyikan. Dia membuat kelemahan yang saya miliki menjadi begitu nyata. Menghadapi diri sendiri secara jujur begini, kadang menguras energi juga.

Saya jadi tahu ternyata sulit juga menghadapi diri saya di dalam dirinya. Tanpa sadar, tak jarang saya menyerangnya atas sifat-sifat yang juga saya miliki (sekaligus membencinya). 

Sampai pada satu titik saya menyadari, menerima kehadirannya justru membuat saya belajar menerima diri saya sendiri. Bersamanya membuat saya belajar bahwa mengakui diri kita tidak sempurna ternyata melegakan. Tidak apa-apa kok, tidak apa-apa.

Tapi, tidak berhenti sampai di sana. "Melihat" diri saya dalam diri orang lain, membuat saya bisa menilai dengan lebih adil. Segala cela yang semula ingin saya maklumi mulai menuntut dibenahi. Tidak apa-apa tidak sempurna, tapi membiarkan yang buruk begitu saja hanya akan membuat jengah. Mengetahui (dan mengakui) kelemahan yang saya miliki mungkin kunci utama sekaligus hanya sebagai tahap awal. Setelahnya, banyak pr yang harus dikerjakan. Saya tidak ingin melihat kelemahan saya lagi dimatanya. 

Mengenalnya barangkali keberuntungan tersendiri bagi saya. 



Related Articles

0 comments:

Post a Comment

Menurut kamu, gimana?