In Life

Mencintai dengan Berani


Saya ini penakut. Saya takut pada penilaian orang lain, maka saya berlaku konformitas. Saya takut terlihat bodoh, maka saya berlagak paham. Saya takut tak disukai, maka saya berupaya selalu ceria dan bersikap ramah.

Saya ini penakut, maka saya tidak bisa mencintai sepenuh hati, saya takut, cinta yang orang lain akui punya untuk saya, menguap sewaktu-waktu. Maka, saya menjarak dan memberikan cinta seperti cicilan, sedikit-demi sedikit. Membuat pagar yang membuat hubungan saya aman tapi justru membuat saya kesepian. Hingga puncaknya, saya memutuskan untuk mundur, dan mengakhiri hubungan. Saya tak berani jika harus kehilangan saat saya tidak siap.
Siapa yang siap kehilangan?


Tapi kami belum benar-benar berpisah. Pacar saya belum mau kami menyerah. Kami hanya saling diam pada beberapa waktu. Pada satu titik, saya pikir, sifat penakut ini membuat saya menjadi bodoh. Mengapa saya harus takut? Bukannya saya toh sudah pernah putus cinta dan bisa jatuh cinta lagi? Dan setengah hati mencintai membuat saya tak mendapatkan apa pun, kami justru jadi lebih berjarak dari ketika kita berteman dulu. 

Hingga pada satu hari, saya putuskan untuk mencintai dengan berani. Saya beranikan diri untuk selalu menyampaikan apa pun yang saya rasakan, sayang, rindu hingga perasaan tak nyaman yang selama ini saya tahan. Saya beranikan diri untuk bertanya padanya tanpa mencemaskan jawaban yang akan ia berikan, dan bukannya berasumsi seperti yang dulu saya lakukan. Saya beranikan diri memberinya ruang untuk dirinya tanpa merasa teracuhkan. Saya beranikan diri menerima penolakan yang di luar kendali kami berdua.  Dan, pada satu waktu, segalanya tak lagi menjadi tentang saya seorang. Akhirnya saya sadar bahwa ternyata menjadi penakut telah menjadikan saya begitu egois. Ketakutan membuat fokus tentang apa pun terpusat pada kepentingan saya seorang. Saya senang hubungan kami menjadi jauh lebih baik kini.

Dan nyatanya, menjadi berani, terasa begitu melegakan. Mencintai orang lain dengan berani, membuat saya bisa mencintai diri saya sendiri dengan lebih baik.

Saya pasti akan tetap bersedih jika memang suatu saat nanti terjadi hal-hal yang tak saya harapkan. Mungkin menangis satu-dua hari, melakukan hal aneh seperti membeli shampoo dee dee seperti saat putus cinta dulu yang entah untuk apa, tapi paling tidak, saya tahu, saya tidak akan menyesali apa pun. Saya tahu saya sudah melakukan yang terbaik yang saya mampu. Maka saya tidak akan kehilangan apa pun. Kelak, yang tak saya dapatkan, memang tak layak untuk saya miliki.

Dan bukan hanya tentang mencintai, tak disukai oleh orang lain hanya karena tidak menjadi diri saya sendiri pun tak layak saya cemaskan, maka, saya akan tetap berlaku baik, bukan karena takut tak disukai, tapi karena saya menyukai diri saya ketika saya seperti itu.




Related Articles

0 comments:

Post a Comment

Menurut kamu, gimana?