In Life

Payung Teduh dan Kenangan yang Belum Bisa Luruh

photo credit: maarceuu


Ada jenis pertanyaan yang diajukan hanya untuk menunjukkan keengganan menerima, bukan untuk sebuah penjelasan. Misalnya, kenapa Is harus pamit dari Payung Teduh? Kenapa Banda Neira harus bubar? Penjelasan panjang soal visi misi yang tak lagi sama, upaya mempertahankan value, atau apa pun bisa saja dijabarkan berulang kali. Saya paham. Tapi, bisakah saya menerima Is yang tega-teganya mengurangi daftar penyanyi favorit saya yang jumlahnya hanya hitungan jari? Haruskah saya berempati atas keresahan Is yang membebaninya selama beberapa bulan ke belakang walau keputusannya mematahkan hati saya? Mungkin rasa sayang saya belum setulus itu. 

Oh Is, andai kamu tahu, saya bahkan merasa kehilangan sejak lagu Akad muncul. Saya suka, tapi tak merasa jatuh cinta, apalagi memiliki. Seperti pacar yang mungkin berubah menjadi lebih baik tapi tak saya kenali lagi. Saya rindu mencari-cari tapi menemukan ketiadaan atau menyapa wanita di tepi sungai dan menari bersama.  Lirik-lirik yang membuat saya mengintrepertasikan ini dan itu. Bukan hanya soal ijab kabul dan mau tidak mau dinikahi. Saya ingin membiarkan matahari membuka matamu, Is atau mungkin mata saya, biar saya bisa lapang menerima. Tapi Is, cemas yang saya rasakan lebih banyak dari rindunya, terlebih di malam hari menuju pagi.


Oh Is, seketika sunyi ini tak lagi merdu.  

Related Articles

0 comments:

Post a Comment

Menurut kamu, gimana?