In Life

Selain Pacar, Perasaanmu Juga Perlu Kamu Terima Apa Adanya

Pernahkah merasa kesal, marah, atau bahkan membenci sesuatu lantas beberapa menit kemudian merasa  menjadi manusia yang buruk karena memiliki perasaan negatif tersebut? Merasa bersedih lalu satu menit kemudian menyalahkan diri sendiri karena kurang bersyukur, merasa cemburu dengan mantannya pacar lalu sekian menit kemudian merasa buruk dan pathetic atas perasaan tersebut.

NPR


Jika pernah, tos dulu yuk!

Kita berpikir bahwa orang baik tidak pantas memiliki perasaan yang buruk 
dan karena kita ingin menjadi orang yang baik (atau paling tidak dianggap sebagai orang baik), kita menyalahkan diri atas perasaan yang kita miliki. Jadi, saat beberapa waktu lalu saya merasa sedih karena satu hal, saya buru-buru berpikir sudah-sudah sedih begitu bikin banyak waktu terbuang, salah sendiri kenapa begini dan begitu. Lalu saya  menyalakan laptop dan melamar sejumlah kegiatan volunteering untuk merasa lebih baik. 

Tanpa saya sadari, saya telah melakukan dua (atau mungkin lebih) kesalahan sekaligus: mengabaikan apa yang saya rasakan dan mengkritik diri saya yang sedang dalam kondisi tidak baik. Pernahkah mengkritik teman yang sedang bersedih? Jika tidak cukup tega melakukan hal tersebut, mengapa mudah sekali jika sasarannya adalah diri sendiri yah?

Ibaratnya, si rasa sedih ini sedang teriak-teriak minta diperhatikan, tapi saya malah pasang headset dan menyetel lagu Rich Chigga kencang-kencang. Problem solved.  Padahal tidak!

project love


Mengabaikan perasaan tidak menyelesaikan masalah. 
Perasaan tersebut hanya akan teralihkan sementara tapi menumpuk dan akan meledak sewaktu-waktu. Seperti pakaian kotor yang kamu sembunyikan di bawah kasur. Cepat atau lambat, tetap harus kamu cuci. Tapi semakin lama dibiarkan, siap-siap aroma tak sedap memenuhi kamarmu.

Menurut Tina Gilbertson, seorang psychotherapist asal USA, menerima perasaan adalah langkah awal menerima diri sendiri alias self-acceptance dan self-acceptance merupakan gerbang menuju self-compassion. Sementara self-compassion alias  mengasihi/menyayangi diri sendiri diyakini sebagai kunci kebahagiaan haqiqi~ 

Maka, jika kamu mengalami kejadian yang membuatmu merasa sedih, kecewa, marah, dan hanya ingin menangis, pahami dan catat apa yang menjadi trigger perasaanmu. Bisa jadi dimarahin atasan di depan umum atau sesimple tukang bakso langgananmu pulang kampung untuk setahun ke depan (well, gak simple sih ini). Berbaik hatilah pada dirimu sendiri dengan merasakan perasaan yang muncul tanpa mengadilinya. Iyah, nggak apa-apa kok, kamu berhak merasakan apa yang kamu rasakan, bukan karena kamu buruk, tapi karena begitulah hatimu bereaksi. 

Dalam 'menikmati' perasaanmu ini, pastikan kamu tidak memberi komentar pedas pada dirimu sendiri. Justru yang perlu kamu lakukan adalah cobalah pahami dirimu. Mengapa kamu merasa marah saat atasan menegurmu di depan umum? Apakah kamu merasa dipermalukan? Tak semua pertanyaan perlu kamu jawab, tapi ketahuilah kamu punya alasan yang tepat untuk perasaan yang kamu miliki. Berikan validasi pada dirimu sendiri: Kamu merasa begitu malu dan tampak tidak kompeten di hadapan teman-temanmu, itulah mengapa kini wajar jika kamu merasa kecewa dan marah. 

Berhenti di situ dan rasakanlah sampai kamu tak lagi merasakannya. Ingat, perasaan dan tindakan adalah dua hal yang berbeda. Kamu berhak merasa marah, tapi kamu tidak berhak ngamuk-ngamuk dengan dalih sedang marah. 

Sudah (baru) dua minggu saya menerapkan hal ini. Pertama, saya jadi merasa lebih 'akrab' dengan diri saya sendiri. Saya merasa tidak 'sekejam' dulu dan tidak menyimpan penyesalan yang tak perlu. Kedua, saya merasa lebih 'aman' karena saya tahu saya tetap bisa menjadi orang baik walau perasaan saya pernah negatif. 

npr

Controlling your feeling is a myth. You can't do that, but you can manage it to be constructive.



Note: metode ini saya dapatkan dari buku Constructive Wallowing

Related Articles

0 comments:

Post a Comment

Menurut kamu, gimana?