In Life

Merayakan Pergantian Tahun: Tentang Pelajaran di 2017

Pergantian tahun hanyalah bagian dari perputaran waktu. Sama halnya seperti pergantian bulan, hari, menit, dan detik. Tak ada yang benar-benar berubah selain angka di kalender atau usia yang bertambah (atau berkurang, tergantung bagaimana kamu ingin memaknainya).

Walaupun begitu, pergantian tahun bagai lembar kosong (atau setengah kosong) pada halaman buku sebelum menuju bab selanjutnya. Di halaman inilah, kamu memiliki jeda khusus untuk berhenti sejenak. Jeda yang bisa kamu gunakan untuk merenungi lembaran yang telah dilalui, memiliki sangkaan di lembar berikutnya, atau sekadar mengambil minum dan menyesapnya dengan khidmat; rehat sejenak.

Jeda ini menjadi momentum untukmu berhenti dan berpikir kembali.
Apa yang sudah kamu lalui selama ratusan hari yang lalu?
Apa yang sudah kamu pelajari?
Apa yang kamu dapatkan dan apa yang harus kamu relakan?

Jeda ini menjadi penutup sekaligus pembuka. Saat kamu ingin memberi deadline pada sikap buruk yang ingin kamu ubah dan nasib yang ingin segera kamu gubah.


2017 Wrap-up! (dan sedikit pelajaran yang semoga tak saya lupakan)




Menutup Desember tahun lalu, saya menghabiskan waktu dengan hal yang saya sesali kemudian. Bukan tentang apa yang saya lakukan, tapi bagaimana sikap saya saat itu. Di dalam mobil, di jalan entah di mana, saya mengeluhkan ini dan itu, dan berpamitan dengan hati yang tak puas. Setelahnya, saya menyadari ada kebersamaan yang tak saya hargai. Sebuah pelajaran berharga yang baru saya sadari setelah berbulan-bulan kemudian.

Bulan-bulan berikutnya adalah bulan perjuangan *halah*. Mengerjakan tesis sambil beradaptasi di tempat kerja yang baru. Keberhasilan melalui itu semua, membuat saya menyadari pentingnya peranan orang-orang di sekitar saya. Saya tahu, tanpa support system yang saya punya, saya pasti sudah lama menyerah.

Selanjutnya adalah bulan-bulan paling plin-plan. Sebuah perpisahan akhirnya tak terhindarkan. Mungkin benar kata Ushikawa, makin tua kamu akan makin sering mengalami kehilangan. Berminggu-minggu saya merasa hari saya penuh halu. Tapi, kehilangan memberikan banyak sekali pelajaran (dan semoga pendewasaan). Menerima-memaafkan-merelakan-(mencoba)melupakan-merindukan. Fase ini berputar-putar seperti siklus tanpa putus. Dan saya berharap bisa keluar dari siklus tersebut sebelum menghadapi 2018.

Hal menyenangkan dan menyedihkan yang terjadi padamu, adalah kesempatan untuk membuatmu mengenali dirimu sendiri. Begitu katanya.  
Semakin tua (akhirnya mengakui), saya makin tak pandai berbasa-basi haha-hihi. Saya lebih suka bersantai bersama tim comfort-zone yang bisa menerima segala 'ketidakpentingan' sikap saya.

Saya juga tahu (walau pasti akan lupa sesekali), bahwa tidak semua kriteria harus ada pada pasangan idaman.  Jika kamu masih terus membayangkan bagaimana kamu akan hidup dengannya di bawah satu atap terus-menerus. Maka, kamu perlu banyak-banyak belajar menerima dan menoleransi.

Terakhir, penting untuk menyadari apa yang benar-benar penting, apa yang layak diperjuangkan, dan apa yang sebaiknya dilepaskan. Mimpi-mimpi, harap, cinta, dan doa.

Selamat tahun baru. Selamat berharap kembali!

Related Articles

0 comments:

Post a Comment

Menurut kamu, gimana?