In Life Review

Bicara Soal Kerinduan dari Tafsiran Asal-Asalan Album Ruang Tunggu Payung Teduh






 

Jika kamu pernah mengalami jenis kerinduan yang tak bisa dituntaskan (tak seperti novelnya Eka Kur) kamu pasti setuju bahwa lagu rindu yang indah-indah itu tak bisa mewakili rasanya. Sepaket lagu dari album baru sekaligus album terakhir Payung Teduh dengan Is, barangkali bisa. Kecuali Akad, deretan lagu di album Ruang Tunggu itu penuh rasa sesak rindu yang tak bisa diapa-apakan.

Mulai dari Muram
Lagu ini sudah diawali dengan kata kerinduan yang dianalogikan dengan aliran sungai yang diteguk sekaligus ditangisi. Memang muram kan. Lalu Is membuat kita harus mengenang soal perpisahan yang membuat mimpi-mimpi bersamanya jadi sirna, dan sang pujaan jauh dari pandangan. Belum lagi soal cerita dan rencana yang sepertinya (harusnya) akan indah bila dapat terwujud. Lagu diakhiri dengan hiburan pada sang tuan untuk menepi, istirahat sejenak. Sedih yah? gitu deh.

Saya jadi teringat seorang teman yang sudah sibuk urus ini itu persiapan pernikahan lalu dibatalkan sang calon pada malam sehari sebelum lamaran.

Tapi toh Mas Is tetap menyemangati: Hiduplah asa, purnalah rasa.

Selalu Muda
Nadanya lebih riang walau liriknya sudah mengandung kata ‘muram’. Banyak lirik yang diakhiri konsonan untuk memberi kesan kesedihan. Di awal, Mas Is mengingatkanmu pada sosok yang dirindukan dan rindu yang dipelihara. Awalnya saya pikir, oh ini lagu cukup aman, nggak sedih-sedih amat harusnya. Sampai pada lirik si tokoh tak bisa menemukan sang pujaannya selain dalam mimpi. Dan menyebalkan, seperti pada film-film (dan mungkin dunia nyata) kenangan menghantuinya kemana-mana. Kasihan, rindunya tak berkesudahan. Bahkan selalu segar seperti saat pertama, rindunya selalu muda.

Lalu, Mari Bercerita
Saya memaknai lagu ini sebagai cinta yang tak bisa memiliki. Gimana yah, mereka berdua saling suka berbincang bersama. Tapi, mentok kalau membahas tentang kebersamaan. Jadi yah, saya sok tahu. Mereka enggan berpisah, mau berdua lama-lama, sudah menanti lama, tapi toh harus berpisah pada saatnya tiba. Duh!

Lanjut ke Sisa Kebahagiaan
Lagu ini lucu. Tapi sedikit banyak mirip dengan Mari Bercerita. Kebersamaan yang ada deadline-nya. Ada yang girang bisa bertemu sampai gelisah. Gelisah kegirangan itu tak berlangsung lama. Seperti sedang pergi sama selingkuhan haha. Ups, bercanda.

Kita Hanya Sebentar
Lagu ini salah satu favorit saya. Is mengingatkan kita soal kesementaraan yang wajar, yang harusnya diterima dengan biasa. Jika bosan memaknainya dengan cinta-cintaan. Bisa juga memaknainya dengan kehidupan. Mengenai kita yang hanya hidup sebentar di dunia ini. Ada yang datang padamu, ada yang pergi dan hanya meninggalkan kenangan perihal kejadian dan aroma.

Mas Is membaca puisi di sela-sela lagu. Indah. Jadi kalau saya dengar lagunya menggunakan headset, pada telinga kanan terdengar mas Is bernyanyi, pada telinga kiri mas Is berpuisi menggema-gema (istilahnya apa yah?) Pokoknya indah!

Terakhir, di Atas Meja
Beda dengan Selalu Muda, di sini ada yang khawatir kerinduan hilang dan sepasang mantan kekasih saling melupakan. Kebiasan yang berubah, keakraban yang menjadi asing. Sedih yah? Ember! 

Tapi setelah dibuat takut dan sedih, Mas Is justru mencoba mengingatkan bahwa ketenangan juga akan segera datang. Jadi, nggak perlu takut dek. Gitulah, abis dibikin cemas terus dibuat tenang. Bertanggung jawab, sip!

Begitulah, saya merasa lagu-lagu di album Ruang Tunggu inilah bentuk rindu yang menyebalkan dan membuat perasanya terpaksa menikmatinya. Mungkinkah Mas Is ciptakan karena tahu kelak (atau telah) merindukan Payung Teduh?


Ditulis dalam perjalanan ke kantor, di kereta menuju Karet.

Related Articles

0 comments:

Post a Comment

Menurut kamu, gimana?