In Review

Review Aroma Karsa: Mengejar Obsesi dari Olfaktori sampai Gunung Lawu



Disclaimer: hati-hati (mungkin) ada spoiler 

Awal membaca, Jati mengingatkan saya pada Parang Jati di Bilangan Fu karya Ayu Utami. Nama yang sama membuat karakternya saling bersisian. Keduanya sama-sama cerdas dan tak banyak bicara. Sama-sama memiliki anomali; Parang Jati dengan jari dua belasnya dan Jati dengan indera penciuman tajamnya. Sama-sama bertubuh atletis, Parang Jati berkat kecintaannya pada alam, Jati berkat pekerjaannya mengorek gunungan sampah.

Tapi Ibu Suri dan Mbak Ayu tentu memiliki rasa yang berbeda. Maka, sampai situ saja perbandingan saya mengenai keduanya.

Awalnya, Aroma Karsa mungkin akan mengingatkanmu pada novel/film Perfume. Grenoille, tokoh sentral di novel Perfume tumbuh besar di pasar ikan dan terbiasa menghirup udara amis yang mencolok, sementara Jati besar menghirup bau tumpukan sampah di TPA Bantar Gebang. Tapi Jati tak memiliki jiwa psikopat Grenouille yang berambisi menikmati aroma-aroma tubuh perempuan. Jati meracik parfum dilandasi cinta pada Suma, keinginan menciptakan aroma yang menyamai, mengimbangi, dan berlandaskan tubuh Suma.

Hubungan asmara antara Jati dan Suma bisa bikin ngiri juga. Berbagi kesamaan membuat keduanya akhirnya tak merasa sendirian/kesepian. Seolah tak ada jodoh lain yang lebih layak.



Aroma Karsa juga mengangkat mitos gunung Lawu yang telah puluhan tahun beredar. Para pencinta alam yang pernah mendaki Lawu, pasti tak asing dengan kisah burung Jalak yang menunjukan arah pada para pendaki, Macan Lawu, hingga kelabang raksasa yang bisa berdiri. Menurut saya, inilah bagian menariknya. Hati-hati tertukar-tukar antara legenda yang ada dengan fiksi karangan Ibu Suri.

Selain Jati dan Suma, sebagai dua tokoh utama, ada Raras Prayagung yang akan dikenali pembaca sejak halaman pertama.  Raras adalah perempuan dengan power yang sedang terobsesi. Dongeng Janirah, neneknya, menjadikan Puspa Karsa pusat obsesi sekaligus motivasi segala tingkah Raras.  Satu hal yang belum terlalu saya pahami. Mengapa ambisi itu lantas kehilangan nurani? Apakah semata-mata hanya karena wasiat sang nenek? Atau soal menguasai dunia? (open for discussion :) )

Adapula Anung dan Ambrik. Sebagai siapa, saya khawatir terlalu banyak spoiler. Sila temukan sendiri di bukunya. Salah satu adegan yang paling berkesan adalah pengorbanan Ambrik dan Anung demi kemaslahatan dunia *tsaaah. Sedalam apa pun cinta Anung pada sang istri, ritual tetap harus dijalankan. Ritual yang sama yang di kemudian hari, bisa saja dihadapi Jati. 

"Ke tanah kami berpulang, ke kahyangan kami melanjutkan kehidupan. Tak ada yang abadi. Sampai bertemu lagi."

Novel ini sudah 'lengkap' walau dengan ending yang seolah akan berlanjut. Tapi bagi saya, sudah indah jika berhenti di sini.


Sumber gambar: Pinterest, detikHot

Related Articles

1 comments:

  1. Akan seru petualangan selanjutnya. Jika memang benar akan lanjut

    ReplyDelete

Menurut kamu, gimana?