In Life

Farewell



Malam itu kami berkumpul dalam satu ruang, hampir lengkap. Kali pertama tanpa mengurusi soal pekerjaan. Satu persatu bergantian memberi pujian. Satu hal yang telah lama saya sadari kembali meruap: betapa saya beruntung sekali dikelilingi orang-orang ini.

Ada yang akhirnya terisak menyampaikan keresahannya. Keresahan kami semua. Hal yang saya khawatirkan, tak sebanding dengan beban yang bergelayut di pundaknya. Saya hanya takut kehilangan lalu tergantikan. Ketakutan kanak-kanak yang tak pantas saya suarakan. Maka saya diam. Menepuk-nepuk punggung teman yang takut gagal bertahan. Memeluknya.

Jika perpisahan beraroma, pasti wanginya tak sedap. Andai bisa, kami memilih menutup hidung, menghirup udara lewat mulut, agar tak tersedak bau perpisahan. Tapi, perpisahan hanyalah soal kapan dan bagaimana, tak terelakan.


it takes me back to where we started it, when you let it go and started again.
is it really comes to the end? (Kodaline)

Apa yang menyedihkan dari perpisahan?

Kita kehilangan sebagian dari diri kita yang merupakan bagian dari sesuatu. Sebagian dari diri kita yang diam-diam kita sukai. Sebagian dari diri kita yang merasa telah menemukan tempat ternyamannya. Kita kehilangan sebagian dari diri kita yang kita kenali sebagai A dan bukan B.

Perpisahan bisa menyedihkan, tapi bisa jadi melegakan. Bahkan bisa saja keduanya sekaligus. Tapi menangisinya terus-menerus adalah sia-sia, sebab barangkali perpisahan adalah bentuk doa yang Tuhan kabulkan.


Maka, syukuri saja.

Maret 2018.


image: SWFloridabirder


Related Articles

0 comments:

Post a Comment

Menurut kamu, gimana?