In Review

Refleksi dari Penafsiran Asal-Asalan Lagu-Lagu di Album Baru Fourtwnty

Sudah beberapa hari ini saya merasa "terganggu" dengan lagu-lagu di album baru Fourtwnty. Liriknya yang begitu deep in their own way bikin gatal buat dipahami.

Ego & Fungsi Otak sebagai judul album terasa sangat tepat membungkus tema sebagian besar lagu pada album baru ini. Beberapa lagu merupakan upaya refleksi yang diutarakan seseorang yang sudah melewati banyak hal dalam hidupnya, seperti Nyanyian Surau dan Kita Pasti Tua. Ada pula lagu cinta, baik yang sedang berbunga-bunga atau yang patah hati sampai ...



Seperti lagu-lagu indie pada umumnya (atau non indie sekalipun), lagu-lagu Fourtwnty begitu multitafsir dan bisa dimaknai dengan sangat subjektif. Sesuai kondisi, pemahaman, pengalaman, hingga asumsi pendengar.

Begitupula dengan tafsiran saya: begitu subjektif. Tapi biarlah saya melepaskan "gangguan" ini dengan mencoba memaknai beberapa lirik lagu Fourtwnty dengan versi saya sendiri.

Nyanyian Surau

Kamu mencoba mengenang masa mudamu. Masa-masa ketika kamu tak tentu arah. Penuh upaya mencari kegembiraan dengan emosi yang meluap-luap yang kini telah redup. Pelan-pelan kamu mengingat bagaimana tindakanmu dulu membuatmu sakit sendiri. Mungkin dengan menjajal narkotika atau kenakalan lainnya sampai kamu tak bisa berpikir menggunakan akal sehat
Hingga sulitku berdamai dengan Nalar tak terkontaminasi
Semua kamu lakukan karena dulu kamu begitu butuh pembuktian diri, haus pujian sampai lupa diri.

Kini, semuanya telah terasa kebas. Rasa dan keinginan menggebu-gebu di masa muda dulu telah tiada. Telah mati suri. 

Saat candu belum mati, kamu mengalami berbagai kehilangan. Mungkin kehilangan orang atau akal sehatmu sendiri. Kamu pernah tenggelam dalam kegilaan, berada di tempat yang menjadi konsekuensi tindakanmu. Bisa jadi penjara atau lebih buruk dari itu.
Mati suri canduku
Mati suri canduku
Kamu lebih riang (dan tenang) sekarang karena hasrat yang mengikat itu sudah redam. Sebabnya, sebuah petunjuk dari Tuhan, mungkin sebuah kitab suci dan kini kamu telah damai di sebuah surau tua.

Realita

Lagu ini sempat sedikit mengingatkan saya pada lagu ERK berjudul Kenakalan di Era Informatika. Bedanya, jika lagu ERK secara gamblang menunjukkan keresahannya soal maraknya konten/perilaku pornografi yang beredar pada masa itu, lagu ini seperti seorang teman yang berkata, “Ngaku aja deh lo, pernah gini kan.”

Alih-alih soal pornografi, lagu Realita lebih luas dari itu, walau mungkin payungnya tidak jauh berbeda, soal kenakalan masa muda.
Nafsu dulu baru logikaTinta biru tinggal cerita- Realita 
Tutup mata tutup telinga. Perhitungan pun tak ada- Realita

Tapi lagu ini gak mencoba menghakimi atau menyesali siapa/apa pun. Sesuai judulnya, lagu ini hanya ingin memaparkan sebuah realita. Maka,

"Tolong tunjuk tangan siapa yang pernah mencoba," begitu katanya.

Kusut

Inilah yang kamu rasakan saat patah hati: Kusut. Saya menginterpretasikan lagu ini sebagai lagu putus cinta. Tentang kamu yang belum bisa menerima usai ditinggalkan. Hingga merasa “sakit” dan “lumpuh”. Kamu tak menemukan dirimu sendiri tanpanya. Kamu merasa hanya sedang berpura-pura terbiasa lupa.
Terlihat ku palsu
Tanpa rasamu, menjamahku
Walau pada akhirnya kamu sadari, bahwa dia bukan yang terbaik buatmu.
Mungkin bukanlah wujudmu
ranjang ternyaman bagiku

Tetap saja kamu kepayahan melepaskannya. Sampai terasa begitu kusut. Kamu merasa lumpuh tanpanya. Tanpa seseorang yang biasa ‘menuntunmu’.

note: yang favorit di sini, ada semacam efek bunyi rintik hujan (atau percikan api?) yang menambah kenikmatan lagu.

Trilogi

Mari kita mulai dari bait terakhir:
Maafkan ini karenaku. Biang masalah masa lalu. Bertemu faham-faham itu. Simpang siur kini namaku.
Lagu ini seperti sebuah pengakuan seorang pelaku teror (teroris?) akibat banyak faham sesat yang dipelajarinya dulu. Kini, ia justru tak tahu mana yang benar dan salah. Ia telah simpang siur. Tapi, ia tahu ia telah menyebabkan kekacauan.
sesal dan kumalu
tangisanku tak membantuku
akhirnya nelangsa
yang menjamahku
menjamah aku
Sebuah lagu penyesalan yang tak bertemu solusi hingga akhir kisahnya. Selain sesal, ada kesedihan dan amarah mendalam karena telah berhasil dijadikan “alat” peneror oleh orang yang kini ia coba lawan.
meradang egoku
meradang tangisku
menghadang tawamu
Makna lagu yang dalam tapi membuat saya bertanya-tanya, jika memang maknanya seperti yang saya tafsirkan di atas, adakah mereka sang pelaku teror betulan bisa merasakan hal tersebut?

Segelas berdua

Akhirnya ada lagu romantis walau “sok tak bisa romantis”. Lagu ini tak terlalu terasa analoginya (paling tidak bagi saya). Liriknya pun jauh lebih mudah dicerna dari lirik lagu lain di album ini. Tentang pemuda yang menunjukan cintanya dengan cara yang “menurutnya tidak romantis dan tanpa rayuan”.


Bukan tidak romantis deng, tapi romantis dengan cara yang berbeda. Nyatanya tetap berusaha menyenangkan kekasih dengan membawakan sebuah bunga. Walau tampak kaku dan tak biasa.

Kembang lili tak tahu malu
Berada digenggam tangan kananku
Tapi tetap berakhir dengan romantis:
Segelas berdua
berwarna merah isi dan langitnya
di bawah aroma hamparan hijau
Jadi, begitulah cara saya melepas "gangguan" ini. Selesai sudah, fyuh! Punya penafsiran atau tanggapan yang berbeda?


image credit: YouTube/Indie Play Id, Fourtwnty Music 

Related Articles

0 comments:

Post a Comment

Menurut kamu, gimana?